Para psikolog menyoroti bahwa trauma tidak hanya berasal dari rasa takut mati, tetapi juga dari "cedera moral". Ronen Sidi, psikolog klinis dari Emek Medical Center, menjelaskan banyak tentara bergulat dengan rasa bersalah mendalam akibat tindakan di medan perang yang dianggap bertentangan dengan hati nurani.
"Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan Anda tidak dapat memperbaiki apa yang telah Anda lakukan," ujar Sidi.
Sistem Kesehatan Mental yang Kewalahan
Upaya mendapatkan bantuan profesional juga terhambat birokrasi berbelit. Tentara harus melalui proses penilaian panjang oleh Kementerian Pertahanan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, seringkali membuat mereka menyerah.
Institusi kesehatan mental di Israel dilaporkan sudah kewalahan menangani lonjakan pasien. Banyak korban trauma tidak mendapat terapi yang memadai atau bahkan tidak menyadari bahwa tekanan yang dialami berkaitan dengan pengalaman di medan perang.
Kesimpulan: Krisis yang Berkelanjutan
Dampak psikologis perang Gaza terhadap tentara Israel semakin dalam dan sistem pendukungnya tidak lagi memadai. Para ahli memperingatkan risiko bunuh diri dan menyakiti diri sendiri akan meningkat drastis jika trauma ini tidak segera ditangani secara serius, di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Artikel Terkait
CIA Senjatai Milisi Kurdi untuk Iran: Benarkah Pemberontakan Baru Akan Dimulai?
Scott Ritter Bongkar Skema Jebakan Martir Iran: Kematian Khamenei Justru Permainan Akhir yang Jenius?
Militer AS & Nubuat Akhir Zaman: Benarkah Perang Iran Dianggap Jalan Turunnya Yesus?
Mengapa AS Bisa Kalah Perang Melawan Iran? Analisis Prof Jiang Xueqin yang Mengejutkan