Dinamika geopolitik terbaru memperbesar kekhawatiran ini. Pasca Oktober 2023, banyak negara Arab mulai menganggap Israel, bukan Iran, sebagai ancaman utama stabilitas regional. Persepsi ini menguat setelah Perang 12 Hari Juni 2025, di mana serangan Israel menggagalkan negosiasi nuklir AS-Iran.
“Sejak AS mencabut banyak pembatasan untuk Israel, para pemain regional mulai melihat kebijakan luar negeri Israel yang agresif sebagai ancaman langsung yang tak terkendali,” jelas Trita Parsi dari Institut Quincy.
Dalam upaya menyeimbangkan kekuatan, negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mulai bergerak membentuk koalisi baru. Iran, dalam perspektif ini, berfungsi sebagai penyangga terhadap Israel. Kekacauan di Tehran justru dipandang akan melemahkan upaya penyeimbangan ini.
Peran Diplomasi Negara-Negara Teluk dalam Mencegah Eskalasi
Menariknya, di antara aktor regional yang berusaha mencegah serangan AS, justru negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Oman, Qatar, dan Arab Saudi, bersama Turki, yang paling aktif secara diplomatik. Mereka berusaha membujuk pemerintahan Trump untuk mencari jalan diplomatik.
Di balik layar, negara-negara ini terlibat dialog tinggi dengan Washington, memperingatkan bahwa serangan dapat memicu ketidakstabilan luas. Mereka menawarkan Trump "jalan keluar yang menyelamatkan muka" sekaligus bertindak sebagai saluran vital dengan Tehran.
“Pengaruh mereka berasal dari tiga aset: kendali atas pangkalan militer dan logistik; kredibilitas sebagai perantara; dan kepentingan bersama untuk menghindari perang yang akan mengguncang pasar energi,” ujar Andreas Krieg, profesor dari King's College London.
Kesimpulan: Eskalasi Militer vs Pengekangan Diplomatik
Pada intinya, ancaman perang AS-Iran menyoroti kekhawatiran mendalam negara Timur Tengah. Mayoritas memandang eskalasi militer sebagai pertaruhan berisiko tinggi yang dapat mendestabilisasi kawasan selama bertahun-tahun. Dampak sekunder seperti krisis pengungsi, gangguan ekonomi, dan kebangkitan aktor radikal dinilai jauh lebih berbahaya.
Peran aktif diplomasi oleh negara-negara Teluk menunjukkan bahwa aktor regional bukan penonton pasif, melainkan pembentuk hasil strategis. Pelajaran pahit dari intervensi militer AS di Afghanistan, Irak, dan Libya telah memperdalam kehati-hatian ini. Dalam lanskap geopolitik yang rapuh, diplomasi dan pengekangan muncul sebagai pilihan paling rasional untuk menjaga stabilitas.
Artikel Terkait
Kapal Induk Luar Angkasa China Luanniao: Ancaman Nyata atau Bluff Strategis?
Kuba Gelar Latihan Perang Besar! Apakah Ini Sinyal Perang dengan AS untuk Hindari Nasib Venezuela?
Donald Trump Minum Aspirin Dosis Tinggi, Tangan Memar di Davos Bikin Heboh!
10 Negara Aman Saat Perang Dunia 3: Inilah Tempat Berlindung yang Paling Strategis!