Lebih lanjut, Iran juga menegaskan batasan agenda dalam perundingan kali ini. Pemerintah Iran hanya bersedia membahas isu nuklir secara spesifik dan secara tegas menolak memasukkan pembahasan mengenai program rudal balistik atau kemampuan militer pertahanannya ke dalam meja perundingan. "Pembicaraan ini murni soal nuklir. Program misil sama sekali tidak ada di meja perundingan," ujar diplomat itu.
Ganjalan Besar bagi Diplomasi Amerika Serikat
Sikap keras Iran ini menjadi ganjalan serius bagi upaya diplomasi Amerika Serikat. Washington menilai penghentian atau setidaknya pembatasan yang signifikan terhadap pengayaan uranium adalah langkah kunci untuk membangun kepercayaan dan mencegah potensi pengembangan senjata nuklir. "Amerika menginginkan kemajuan nyata, bukan sekadar dialog tanpa konsesi," ungkap sumber diplomatik tersebut.
Meski jalur komunikasi belum sepenuhnya terputus, perbedaan posisi antara kedua negara masih sangat tajam. Iran tetap bertahan pada prinsip kedaulatan dan keamanan nasionalnya, sementara AS terus mendesak adanya langkah-langkah konkret sebagai prasyarat untuk melanjutkan negosiasi.
Jalan Panjang Menuju Kesepakatan Nuklir
Isu program nuklir Iran telah menjadi sumber ketegangan utama dalam politik global dan keamanan kawasan Timur Tengah selama bertahun-tahun. Meski upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencegah eskalasi konflik, penolakan keras Iran terhadap permintaan AS mengenai pengayaan uranium menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan yang komprehensif masih panjang dan dipenuhi hambatan yang signifikan.
Artikel Terkait
Misteri Wajah di Uang $20: Benarkah Jeffrey Epstein Adalah Reinkarnasi Andrew Jackson?
Dokumen FBI Bocor: Ternyata Ini Peran Sebenarnya Jeffrey Epstein untuk Mossad
Dokumen Epstein Bocor: Upaya Goyang Putin dan Rahasia yang Masih Disembunyikan
Iran Vs AS: Akhirnya Berunding di Oman Setelah Gagal Digertak, Apa Hasilnya?