Sepanjang konflik Gaza, sekutu non-negara Iran seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman menunjukkan aksi nyata perlawanan. Sementara itu, Iran sendiri telah terlibat pertukaran serangan langsung dengan Israel. Ancaman Iran untuk membalas jika diserang AS sangat nyata.
Serangan sebelumnya ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar menjadi pengingat pahit. Pejabat Iran seperti Ali Shamkhani mengisyaratkan respons yang lebih masif jika terjadi serangan baru. Fasilitas kritis di Qatar, UEA, Arab Saudi, dan Bahrain menjadi target potensial rudal atau drone Iran, seperti yang pernah melumpuhkan fasilitas minyak Saudi pada 2019.
Dampak Ekonomi dan Stabilitas Kawasan
Selain ancaman keamanan langsung, negara-negara Teluk menghadapi risiko ekonomi besar:
- Pelarian Modal dan Talenta: Ancaman perang akan mengusir investasi asing dan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk diversifikasi ekonomi.
- Krisis Pengungsi: Keruntuhan ekonomi atau konflik di Iran dapat memicu gelombang pengungsi besar-besaran ke negara tetangga seperti UEA.
- Blokade Selat Hormuz: Iran memiliki kemampuan untuk melakukan blokade "cerdas" di selat vital tersebut, yang dilalui seperlima minyak dunia. Hal ini akan melambungkan harga minyak global dan memicu inflasi.
Momok Senjata Nuklir dan Perlombaan Senjata
Skenario terburuk adalah dorongan bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir jika merasa terpojok. Jika Iran tak berhasil diduduki sepenuhnya, tidak ada hambatan material untuk membuat bom nuklir,
tulis analis. Situasi ini akan memaksa negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan UEA, untuk memulai program penangkal nuklir sendiri, menjerumuskan kawasan ke dalam perlombaan senjata yang berbahaya.
Kesimpulan
Upaya negara-negara Arab mencegah serangan ke Iran didorong oleh kalkulasi realpolitik dan kepentingan nasional yang mendalam. Ketakutan terhadap hegemoni Israel yang tak terbendung, risiko destabilisasi massal, ancaman pembalasan langsung, dan kehancuran ekonomi regional menjadi faktor penentu. Bagi mereka, Iran yang ada saat ini, meski menjadi rival, dipandang sebagai penyeimbang yang lebih dapat diprediksi dibandingkan kekacauan dan dominasi Israel tanpa saingan di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Wasiat Rahasia Khamenei Terbongkar: Inilah Sosok yang Akan Gantikan Dia Jika Perang dengan AS Pecah
Dubes AS Mike Huckabee Klaim Israel Berhak Kuasai Timur Tengah: Ini Fakta Kontroversialnya
USS Gerald Ford Siaga Tempur: Akankah Sejarah Operation Praying Mantis 1988 Terulang?
Iran Ancam Serang Pangkalan AS: Apa Dampaknya bagi Stabilitas Global?