Ketegangan ini memuncak dengan laporan The New York Times bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan berskala besar terhadap Iran jika diplomasi atau serangan terbatas gagal. Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaili Baghaei, menegaskan bahwa Iran akan menganggap setiap serangan terbatas AS sebagai tindakan agresi.
Perwakilan Iran untuk PBB juga memperingatkan bahwa semua pangkalan dan aset musuh di kawasan akan menjadi sasaran sah bagi Iran, dan AS akan menanggung tanggung jawab penuh atas konsekuensinya.
Pernyataan Raja Yordania dan Isu Kawasan
Di tengah ketegangan ini, Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein menekankan pentingnya solusi dialog dan politik untuk mencegah eskalasi. Dalam pertemuan dengan Sindikasi Jurnalis Yordania, Selasa (24/2/2026), Raja Abdullah menyatakan Yordania tidak akan memperbolehkan pelanggaran ruang udaranya dan tidak akan menjadi arena perang.
Raja Abdullah juga menyoroti isu Palestina, menegaskan komitmennya untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan mencegah perubahan status quo di Tepi Barat dan Yerusalem oleh Israel. Dia pun menekankan pentingnya mendukung stabilitas dan integritas kawasan Suriah.
Kesimpulan: Ketegangan Meningkat di Timur Tengah
Pengerahan besar-besaran pesawat tempur AS, termasuk jet canggih F-35 dan F-22, di Yordania dan Eropa menjadi sinyal militer yang kuat kepada Iran. Sementara AS mempertimbangkan opsi serangan, Iran telah menyiapkan respons defensif yang tegas. Pernyataan Raja Yordania mencerminkan kekhawatiran negara-negara kawasan terhadap potensi konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas regional. Situasi ini terus berkembang dan memerlukan pengawasan ketat terhadap langkah-langkah diplomatik dan militer selanjutnya.
Artikel Terkait
Rahasia Mengejutkan: Mengapa Negara Arab Justru Takut Jika Iran Diserang Israel?
Wasiat Rahasia Khamenei Terbongkar: Inilah Sosok yang Akan Gantikan Dia Jika Perang dengan AS Pecah
Dubes AS Mike Huckabee Klaim Israel Berhak Kuasai Timur Tengah: Ini Fakta Kontroversialnya
USS Gerald Ford Siaga Tempur: Akankah Sejarah Operation Praying Mantis 1988 Terulang?