Pembatasan aktivitas ekonomi ini berawal dari pedoman nasional yang dikeluarkan Komando Pertahanan Dalam Negeri IDF setelah serangan ke Iran pada akhir Februari 2026. Pedoman itu melarang semua pertemuan, menutup kegiatan pendidikan, dan hanya mengizinkan operasi bisnis yang dianggap penting saja. Kebijakan ini juga memperpanjang pembatasan hingga beberapa hari berikutnya.
Akibatnya, perekonomian Israel terpukul berat. Kerugian Rp 50 triliun per minggu tersebut bersumber dari kombinasi penutupan sekolah dan kampus, larangan kerja di kantor, serta mobilisasi besar-besaran tentara cadangan.
Usulan Mitigasi: Beralih ke Status 'Peringatan Oranye'
Sebagai jalan tengah, Kementerian Keuangan mengusulkan perubahan status dari tingkat kewaspadaan merah (aktivitas penting saja) ke tingkat oranye (aktivitas terbatas). Dengan status oranye, kegiatan tempat kerja dan ekonomi diizinkan dengan syarat ketat, yaitu harus berada di dekat ruang atau bunker yang dilindungi, meski lembaga pendidikan tetap ditutup.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi hemoragi keuangan negara sambil tetap mempertimbangkan faktor keamanan warganya dari potensi serangan balasan.
Artikel Terkait
Selat Hormuz Meledak! AS Tembak & Sita Kapal Iran, Ancaman Perang Makin Nyata?
Iran Akui Kapalnya Disita AS: Ancaman Serangan Balasan yang Bisa Picu Perang Baru?
Kapal Iran Hancur Ditembak AS di Teluk Oman: Blokade Memicu Perang Baru?
Iran Tembak Kapal Dagang di Selat Hormuz: Blokade Total Ancam 20% Pasokan Minyak Dunia?