“Setelah semua janji yang dibuat, setelah Kurdi Suriah berdiri di garis paling depan, kita menyaksikan sendiri bagaimana mereka diperlakukan,” ujarnya.
Kurdi Ingin Pertahankan Perdamaian yang Telah Dicapai
Shanaz menekankan bahwa Kurdi Irak kini menikmati stabilitas dan perdamaian. Kondisi ini mustahil dikorbankan hanya untuk kembali menjadi pion permainan negara adidaya.
“Pengalaman itu masih ada. Janji-janji kosong itu masih ada. Terlalu sering Kurdi hanya diingat ketika kekuatan atau pengorbanan mereka dibutuhkan,” katanya.
Latar Belakang: Rencana AS dan Respons Iran
Pernyataan Shanaz muncul menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump kesulitan mendapatkan persetujuan Kongres untuk mengerahkan tentara secara masif ke Iran. Sebagai alternatif, AS dikabarkan menawarkan pendanaan dan persenjataan kepada kelompok Kurdi di perbatasan Irak-Iran, khususnya faksi Masoud Barzani dan Bafel Talabani, untuk misi penggulingan pemerintahan Teheran.
Menanggapi hal ini, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah mulai melakukan serangan di wilayah-wilayah Kurdi di perbatasan. Shanaz pun menutup pernyataannya dengan permohonan: “Karena alasan itu, saya memohon kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik ini. Biarkan Kurdi hidup dalam ketenangan.”
Artikel Terkait
Blokade Trump vs Iran: Selat Hormuz Membara, Bisakah Perang Dicegah?
Gempa M7.4 Baru Saja Terjadi, BMKG Jepang Peringatkan: Bersiap untuk yang Lebih Dahsyat!
Balikatan 2026: 17.000 Pasukan AS-Filipina-Jepang Uji Rudal di Depan Taiwan, China Marah!
Selat Hormuz Meledak! AS Tembak & Sita Kapal Iran, Ancaman Perang Makin Nyata?