Kota-kota besar seperti London, Manchester, dan Liverpool melaporkan antrean panjang di SPBU dengan waktu tunggu lebih dari satu jam. Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying, meski mengakui adanya kenaikan harga grosir bahan bakar. Mereka menegaskan bahwa tidak ada kelangkaan dan harga rata-rata masih di bawah level tahun lalu.
Bangladesh: Pembatasan Penjualan Diterapkan
Ketergantungan Bangladesh pada impor energi dari Timur Tengah memicu antrean panjang di Dhaka dan Chattogram. Penjualan solar melonjak dari rata-rata 13.000 ton menjadi lebih dari 20.000 ton per hari. Untuk mengendalikan situasi, Bangladesh Petroleum Corporation (BPC) memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar harian. Cadangan bahan bakar saat ini diperkirakan bertahan untuk dua hingga empat minggu.
Myanmar: Aturan Ganjil-Genap untuk Hemat BBM
Kondisi pasokan energi Myanmar yang sudah rapuh semakin tertekan. Junta militer terpaksa memberlakukan aturan ganjil-genap berdasarkan nomor pelat kendaraan untuk menghemat bahan bakar. Cadangan bahan bakar negara itu dilaporkan hanya cukup untuk sekitar 40 hari. Antrean panjang dan penutupan SPBU akibat kehabisan stok telah terjadi di beberapa kota, termasuk Yangon.
Secara keseluruhan, ketegangan di Timur Tengah telah memicu ketidakstabilan pasar energi global dan respons panic buying di berbagai negara yang bergantung pada impor. Pemerintah di masing-masing negara berusaha meredam kepanikan dengan menegaskan ketersediaan stok, meski tekanan pada harga dan pasokan tetap menjadi ancaman serius jika konflik berkepanjangan.
Artikel Terkait
AS Kecewa, Harga Minyak Bisa Melonjak? Ini Dampak Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran
Minyak Iran Jadi Sasaran AS: Senator Bocorkan Rencana Kuasai 31% Cadangan Minyak Dunia!
Mojtaba Khamenei Naik Tahta: Siapa Pangeran Bayangan yang Kini Pimpin Iran?
Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Tertinggi Iran: Apa Dampaknya Bagi Perang dengan AS dan Israel?