Graham lebih lanjut membeberkan strategi energi AS. Menurutnya, dengan menguasai minyak Iran dan Venezuela, AS dapat mengendalikan sekitar 31% cadangan minyak dunia yang diketahui.
"Venezuela dan Iran memiliki 31% cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31% cadangan yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang baik," paparnya.
Pernyataan ini memperkuat analisis bahwa Washington sedang menjalankan strategi ganda. Selain menekan Iran, AS juga telah berupaya mengendalikan sektor minyak Venezuela setelah operasi penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Dampak Konflik pada Pasar Energi Global
Eskalasi konflik telah menyebabkan gejolak signifikan di pasar energi. Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk pengiriman minyak global, dan menyerang beberapa kapal tanker. Tindakan ini memicu gangguan pasokan yang lebih parah.
Militer Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk. Sebagai respons, pasar minyak bereaksi sangat tajam. Laporan CNBC International mencatat harga minyak mentah sempat melonjak di atas $110 per barel setelah beberapa produsen energi Timur Tengah mengumumkan pemangkasan produksi.
Teheran sendiri mengecam perang tersebut sebagai agresi tanpa provokasi dan bersumpah tidak akan menyerah pada tuntutan AS. Konflik ini semakin memperlihatkan persilangan antara kepentingan geopolitik, keamanan energi, dan stabilitas ekonomi global.
Artikel Terkait
Teror di Makan Malam Gedung Putih! Trump Terjungkal Saat Tembakan Mengguncang Washington
Terungkap! Pelaku Penembakan di Acara Trump Ternyata Seorang Guru
Presiden Iran yang Juga Dokter Bedah Jantung: Ternyata Ini yang Terjadi pada Pemimpin Tertinggi Usai Diserang AS-Israel
Perdana Menteri Jepang Nyaris Kelaparan: Kisah di Balik Aturan Ketat yang Bikin Takaichi Kehabisan Makanan dan Kurang Tidur