Perang Iran vs Trump: Bisa Jadi Bumerang dan Ancaman Lengser di Pemilu 2026?

- Selasa, 10 Maret 2026 | 17:00 WIB
Perang Iran vs Trump: Bisa Jadi Bumerang dan Ancaman Lengser di Pemilu 2026?

Pemilu Sela AS, yang dijadwalkan pada 6 November, sering disebut sebagai "referendum" terhadap kinerja presiden petahana. Dalam sejarah, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi di Kongres dalam pemilu ini.

Kekalahan Partai Republik di Kongres dapat melemahkan posisi Trump secara signifikan. Meski tidak serta-merta melengserkan presiden, kemenangan oposisi membuka jalan untuk proses impeachment (pemakzulan). Presiden baru benar-benar lengser jika Senat memutuskan bersalah dengan dukungan dua pertiga suara.

Survei terbaru pasca eskalasi konflik menunjukkan tekanan publik. Tingkat persetujuan terhadap Trump dilaporkan turun ke titik terendah 38%, sementara 59% menyatakan tidak setuju.

Sikap Trump dan Analisis Jalan Keluar

Di tengah tekanan, Trump tetap membela kebijakan militernya. Di media sosial, ia menyebut kenaikan harga minyak sebagai "harga yang sangat kecil" untuk dibayar demi keamanan global dan menghentikan ancaman nuklir Iran.

Namun, para pengamat memperingatkan bahwa isu harga bahan bakar sangat sensitif bagi pemilih AS. Konflik yang berlarut dan harga energi yang tinggi berisiko mengubah strategi geopolitik ini menjadi bencana politik domestik.

Mantan pejabat senior pemerintahan, seperti dikutip CNN International, menyebut kondisi pasar bisa memaksa Gedung Putih meninjau ulang skala operasi militer. "Jika situasi ini terus berlangsung atau memburuk, akan ada kebutuhan untuk mengevaluasi kembali operasi yang sedang berjalan," ujarnya.

Dalam perkembangan terbaru, Trump menyatakan perang akan segera berakhir dan memprediksi harga minyak dunia akan turun. Ia mengklaim, "kita mencapai kemajuan besar menuju penyelesaian tujuan militer kita".

Halaman:

Komentar