Konflik ini memicu kecaman dari sejumlah negara. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut insiden yang menimpa Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan. Kremlin mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi.
Operasi Militer Terus Berlanjut di Tengah Wacana Perundingan
Serangan AS dan Israel dilaporkan berlanjut pada Senin (10/3/2026), dengan target pusat komando di Isfahan, Shiraz, Kermanshah, dan Tabriz. Di Teheran, serangan dikabarkan terjadi di dekat Bandara Mehrabad dan markas Korps Quds.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengumumkan penghancuran pangkalan pengendali satelit Israel yang vital untuk mengarahkan rudal.
Di tengah peperangan, Presiden Donald Trump menyatakan perang hampir berakhir. Namun, pakar militer Brigjen Elias Hanna menganalisis pernyataan ini sebagai persiapan menuju meja perundingan. Menurut analisisnya untuk Aljazeera, tujuan perang yang dicanangkan Washington dan Tel Aviv belum tercapai.
"Pemimpin baru itu pasti akan duduk di meja perundingan pada saat tertentu, tapi dia akan semakin meningkatkan eskalasi untuk menunjukkan legitimasinya sebelum sampai ke momen politik itu," ujar Hanna.
Mojtaba Khamenei yang ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru dinilai perlu membangun legitimasi penuh, terutama dari lembaga-lembaga militer yang mengelola negara, mengingat latar belakangnya yang berbeda dengan ayahnya.
Artikel Terkait
Teror di Makan Malam Gedung Putih! Trump Terjungkal Saat Tembakan Mengguncang Washington
Terungkap! Pelaku Penembakan di Acara Trump Ternyata Seorang Guru
Presiden Iran yang Juga Dokter Bedah Jantung: Ternyata Ini yang Terjadi pada Pemimpin Tertinggi Usai Diserang AS-Israel
Perdana Menteri Jepang Nyaris Kelaparan: Kisah di Balik Aturan Ketat yang Bikin Takaichi Kehabisan Makanan dan Kurang Tidur