Pernyataan itu disampaikan menanggapi penembakan massal yang terjadi di Buffalo, New York, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (14/5/2022).
Serangan tersebut diduga memiliki motif rasial dengan pelaku seorang remaja kulit putih bernama Payton Gendron (18 tahun). Akibat serangan itu setidaknya 10 orang tewas yang sebagian besar korban warga kulit hitam.
“Negeri yang dikenal sebagai kampiun demokrasi malah hidup dengan ancaman rasialisme yang semakin tumbuh,” kata Baharun kepada Republika.co.id, Senin (16/5/2022).
Dia mengatakan faktor di balik serangan ini adalah media sosial (medsos). Medsos menjadi sarana pemicu kebensian dan rasialisme.
“Hidup bergaya modern liberal bukan menjadi jaminan membawa harmoni dan kerukunan. Malahan ini menjadi lebih parah dari era Jahiliyah,” ujarnya.
Artikel Terkait
Dokumen Rahasia Terungkap: Surat Kematian Jeffrey Epstein Terbit SEBELUM Ia Ditemukan Tewas!
Misteri Wajah di Uang $20: Benarkah Jeffrey Epstein Adalah Reinkarnasi Andrew Jackson?
Iran Tolak Mentah-Mentah! Ini Alasan Pengayaan Uranium Tak Bisa Ditawar AS di Oman
Dokumen FBI Bocor: Ternyata Ini Peran Sebenarnya Jeffrey Epstein untuk Mossad