Meski begitu, WHO meminta negara-negara untuk memantau perkembangan cacar monyet di negara masing-masing dengan saksama.
"Meski beberapa anggota menunjukkan pandangan berbeda, komite memutuskan lewat konsensus untuk menganjurkan dirjen WHO bahwa untuk saat ini, wabah yang terjadi belum dapat dinyatakan sebagai kedaruratan global," ungkap komite kedaruratan WHO, seperti dilansir WebMD, Kamis (30/6/2022).
Menurut komite kedaruratan WHO, wabah cacar monyet yang terjadi saat ini memang tak biasa. Mereka juga menyoroti bahwa kasus cacar monyet di negara-negara endemiknya sempat terabaikan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menyebar ke negara-negara non endemik. Sekitar 80 persen negara non endemik yang menemukan kasus cacar monyet terletak di wilayah Eropa.
Sejak Mei hingga saat ini, sudah ada lebih dari 3.200 kasus cacar monyet di dunia yang dilaporkan ke WHO. Sebanyak 201 kasus di antaranya terdeteksi di Amerika Serikat, dengan sebaran 51 kasus di California, 35 kasus di New York, dan 26 kasus di Illinois.
Sebagian besar kasus cacar monyet yang terkonfirmasi mengenai pria, terutama pria gay, biseksual, dan pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria. Sebagian besar kasus juga ditemukan di area perkotaan dan di antara kelompok sosial padat dan jaringan seksual.
Tanda-tanda cacar monyet yang muncul sejauh ini tampak tidak khas. Lesi yang muncul jumlahnya tidak begitu banyak dan terjadi di area genital, anal, dan oral. Lesi ini tidak menyebar ke area tubuh lain.
Gejala lain yang juga menyertai adalah demam, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Beberapa kasus cacar monyet membutuhkan perawatan di rumah sakit dan satu kasus kematian terjadi pada pasien cacar monyet dengan masalah kelainan imun.
Artikel Terkait
Gedung Putih Lockdown! Penembakan Misterius Usai Konvoi Wapres JD Vance Melintas
Iran vs AS Baku Tembak di Selat Hormuz: 6 Kapal Militer Hancur, Trump Beri Perintah Evakuasi
Rudal Hoot Iran: Senjata Bawah Laut 200 Kg yang Bikin Kapal Musuh Hancur Sekejap
Blokade AS Gagal Total? Iran Buka Suara soal Skenario Perang di Selat Hormuz