Keputusan Biden ini membuat para pembela hak asasi manusia dan analis politik membunyikan alarm atas dampak negatif dari kebijakan Gedung Putih terhadap warga sipil Yaman.
“Saya sangat prihatin dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi orang-orang biasa di Yaman,” kata Afrah Nasser, seorang peneliti non residen di Arab Center Washington DC yang sebelumnya bekerja sebagai peneliti Yaman di HRW (Human Rights Watch).
Nasser mengatakan kepada Al jazeera bahwa penetapan tersebut berisiko memperdalam krisis kemanusiaan di Yaman, yang telah mengalami perang selama bertahun-tahun antara Houthi dan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Menurut PBB, lebih dari separuh penduduk Yaman, 18,2 juta orang, membutuhkan bantuan karena negara ini sedang dilanda krisis ekonomi, kenaikan harga, pengungsian massal, dan kelaparan.
“Keluarga biasa Yaman hari ini menderita kebijakan domestik Houthi dan juga kebijakan komunitas internasional di Yaman, seperti penunjukkan AS yang kita dengar hari ini,” kata Nasser.
“Warga Yaman terjebak di antara dua api.” ***
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: bicaraberita.com
Artikel Terkait
Netanyahu Buka Suara: Perang dengan Iran Belum Usai, Masih Ada Pekerjaan Rumah yang Nggak Selesai-Selesai
Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Irak untuk Serang Iran, AS Tahu tapi Irak Tak Diizinkan Tahu
Dokumen FBI Bocor: Makhluk 4 Kaki Keluar dari UFO, Ini Bukti Mengerikannya!
Kisah di Balik 4 Anak Elon Musk: Mantan Dewan OpenAI Bongkar Rahasia Donasi Sperma & Gugatan Besar