“Biasanya disertai penyiksaan dan intimidasi,” ungkap Wilson dengan nada getir.
Dari Markas Buruh Menjadi 'Rumah Jagal'
Kremlin yang legendaris itu berlokasi di Jalan Kramat V, Senen, Jakarta Pusat, menempati tiga rumah bernomor 14, 16, dan 17.
Ironisnya, sebelum menjadi rumah jagal, bangunan ini adalah Kantor Dewan Nasional Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), sebuah simbol perjuangan kaum pekerja.
Namun, setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965 meletus, nasib bangunan itu berubah 180 derajat.
Militer mengambil alih dan menyulapnya menjadi markas unit Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban atau Laksus Kopkamtib.
Kopkamtib, yang awalnya dibentuk atas kompromi Soekarno dan Soeharto untuk memulihkan keamanan, dengan cepat meluas fungsinya di bawah kendali Soeharto.
Lembaga super ini menjadi mesin utama untuk menangkapi siapa pun yang dianggap terkait dengan PKI.
Dalam buku "Neraka Rezim Suharto: Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru", Kremlin digambarkan sebagai salah satu lokasi paling menakutkan.
Banyak aktivis dan warga yang diculik dan dibawa ke sana, lalu disiksa dengan metode yang sangat sadis.
Bagi Wilson, Kremlin dan Ragunan adalah antitesis dari hukum.
Di sanalah proses peradilan dibungkam, digantikan oleh deru interogasi tanpa henti dan jeritan pilu yang tak pernah terdengar hingga ke luar tembok.
Tempat-tempat ini, baginya, adalah mesin Orde Baru untuk mematahkan perlawanan, bahkan sebelum perlawanan itu sempat diadili.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Gibran Liburan di Bali, JK Berdialog Perdamaian: Siapa yang Lebih Dibutuhkan Publik Saat Ini?
Bus Jemaah Umrah Indonesia Terbakar di Madinah, Begini Kronologi Selamatnya 24 WNI
Turis Australia Diperkosa Satpam di Bali: Kronologi Mengerikan di Balik Kamar Mandi Klub Malam
Presiden Prabowo Beri Perintah Rahasia ke Bahlil: Ini Strategi Darurat Minyak Imbas Perang Timur Tengah