Ratu Sekar Kedaton: Tragedi Pengasingan Manado yang Mengubur Hak Takhta Putra Mahkota

- Minggu, 09 November 2025 | 21:25 WIB
Ratu Sekar Kedaton: Tragedi Pengasingan Manado yang Mengubur Hak Takhta Putra Mahkota

Kisah Tragis Ratu Sekar Kedaton: Permaisuri Yogyakarta yang Wafat di Pengasingan Manado

Sejarah Keraton Yogyakarta menyimpan banyak kisah, tak hanya tentang kejayaan, tetapi juga tragedi di balik tembok istana. Salah satu kisah paling memilukan adalah tentang pengasingan Ratu Sekar Kedaton, permaisuri sah Sultan Hamengkubuwana V, yang harus mengakhiri hidupnya di tanah pembuangan, Manado.

Siapa Ratu Sekar Kedaton?

Ratu Sekar Kedaton bukanlah perempuan biasa. Ia adalah salah satu istri sah dari Sultan Hamengkubuwana V, penguasa Kesultanan Yogyakarta pada abad ke-19. Sebagai permaisuri dari darah bangsawan tinggi, posisinya sangat kuat di dalam istana.

Konflik Suksesi dan Campur Tangan Belanda

Kisah pilu ini berawal setelah mangkatnya Sultan Hamengkubuwana V. Terjadi konflik internal yang sengit mengenai siapa yang berhak menduduki takhta. Ratu Sekar Kedaton dengan tegas menolak penetapan Sultan Hamengkubuwana VII sebagai penerus. Ia bersikukuh bahwa putra kandungnya, Pangeran Timur Muhammad (Suryangalaga), adalah pewaris sah takhta karena lahir dari permaisuri utama.

Sikap perlawanan ini dianggap mengancam stabilitas dan kepentingan pemerintah kolonial Belanda, yang memiliki pengaruh besar di keraton. Alih-alih mendukung hak putra mahkota, Belanda justru melihat Ratu Sekar Kedaton sebagai penghalang.

Pengasingan ke Manado

Halaman:

Komentar