Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi badai besar dari luar negeri. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS telah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak, bahkan mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Ahli strategi makro Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyarankan pemerintah bersiap mengaktifkan mekanisme penyesuaian subsidi jika harga Brent bertahan di atas $90 per barel. Pembayaran kompensasi energi ke Pertamina dan PLN yang tidak rutin juga berpotensi memicu tekanan inflasi dan kenaikan harga BBM.
Tantangan Program Prioritas dan Kebijakan Daerah
Program prioritas pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menghadapi tantangan implementasi dari sisi anggaran dan distribusi. Di tingkat daerah, pengalihan sekitar 58% dana desa ke program Koperasi Desa Merah Putih dikhawatirkan menimbulkan distorsi fiskal dan mengganggu prioritas pembangunan desa.
Kritik atas Komunikasi Kebijakan yang Over Promised
Kritik paling mendasar ditujukan pada gaya komunikasi kebijakan. Bhima Yudhistira menilai pemerintah terlalu optimistis dan cenderung "over promised" dalam menyampaikan janji kebijakan. Hal ini berisiko menurunkan kepercayaan pasar jika realisasinya tidak sesuai.
Reputasi fiskal suatu negara ibarat jembatan gantung. Kepercayaan pasar bergantung pada persepsi kekokohannya. Saat ini, semakin banyak ekonom yang mendengar bunyi "krek" kecil dari arah pengelolaan APBN, menandakan perlunya kewaspadaan dan koreksi yang serius.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp17.310 per Dolar AS, BI Justru Bilang Ini Saatnya Beli?
Rupiah Tembus Rp17.310 per Dolar AS! Gubernur BI Justru Bilang Ini Kabar Baik?
Rupiah Tembus Rp17.310! BI Bilang Jangan Panik, Ini Alasan di Balik Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Tembus Rp17.310! BI Sebut Nilai Tukar Sedang Undervalued—Kapan Akan Kembali Menguat?