Analisis Dinamika Politik: Said Didu, Roy, Refly, dan Peta Kekuatan Barisan Ulama
Penulis: Damai Hari Lubis
Ketua Korlabi
Kelompok yang di dalamnya terdapat Said Didu, Roy Suryo, dan Refly Harun, bersama figur seperti Ikrar Nusa Bakti dan A. Samad, seringkali tidak dikategorikan sebagai bagian dari "kelompok politik identitas" atau barisan ulama istiqomah. Interaksi mereka dengan tokoh-tokoh ulama lebih sering bersifat kunjungan politis praktis.
Latar Belakang dan Motivasi Politik
Sebagian besar dari mereka merupakan mantan pejabat publik di era pemerintahan SBY dan Jokowi. Muncul analisis publik bahwa mungkin ada kekecewaan tertentu, misalnya Refly sebagai eks-Komisaris Pelindo, terhadap dinamika kekuasaan yang membuat figur seperti Erick Thohir tetap bertahan dari era Jokowi hingga ke pemerintahan Prabowo Subianto.
Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aktivitas kritik mereka turut dipengaruhi oleh keluarnya Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis (DHL) dari proses hukum setelah memperoleh SP3. Kedua tokoh aktivis yang dekat dengan barisan ulama tersebut dinyatakan tidak layak sebagai tersangka berdasarkan pertimbangan hukum yang substantif.
Pergeseran Kekuatan di Masa Transisi
Dinamika transisi kekuasaan menciptakan gejolak bagi para politisi pragmatis. Upaya mereka untuk mendekati kekuasaan seringkali menemui jalan buntu. Hal ini memicu kolaborasi antara kelompok avonturir sekuler dengan elemen-elemen dari partai politik besar, yang secara historis sejak era Reformasi 1998 memiliki ketidak-sukaan terhadap Prabowo dan juga kritik terhadap Jokowi.
Artikel Terkait
Febrio & Luky Dicopot? Ini Fakta Rotasi Besar Menkeu Purbaya di Kemenkeu
Menu MBG Nabire Viral: Rendang Hanya Saat Gibran Datang? Ini Faktanya!
3 Kebijakan Kontroversial yang Bikin Dompet Kelas Menengah Menjerit: BBM Naik, Mobil Listrik Kena Pajak, hingga Tol Kena PPN!
Pengacara Jokowi Buka Suara: Mengapa Polemik Ijazah Takkan Selesai Meski Ditunjukkan ke Publik?