Nilai perdagangan energi yang melewati Selat Hormuz diperkirakan mencapai hampir USD 600 miliar per tahun.
Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur krusial untuk ekspor gas alam cair (LNG) dan seperempat perdagangan pupuk dunia.
Namun, kepemilikan Selat Malaka belum memberikan keuntungan maksimal bagi negara-negara yang memilikinya. Sebagian besar keuntungan justru dinikmati oleh Singapura, yang memiliki pelabuhan dengan frekuensi singgah kapal kargo dunia yang sangat tinggi.
Tak heran, pernyataan Purbaya mengenai penerapan tarif di Selat Malaka membuat Singapura bereaksi keras. Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Malaka dan Singapura harus tetap terbuka untuk semua negara.
Ia menekankan bahwa Singapura tidak akan mendukung upaya apa pun yang bertujuan membatasi akses tersebut.
“Hak akses transit dijamin untuk semua orang,” kata Dr. Balakrishnan dalam sebuah diskusi santai di acara CNBC di Singapura, Rabu pagi. “Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, melarang, atau mengenakan biaya tol di lingkungan kami,” seperti dimuat CNA.
Artikel Terkait
Waspada! Ini Tarif BPJS Kesehatan 2025 yang Bikin Kantong Jebol & Cara Cek Iuran Terbaru
Mahfud MD Bongkar Kelemahan Hukum Laporan Makar Saiful Mujani: Ini Buktinya!
Dari Kos 3x4 ke Ruko Mewah: Kisah Teknisi iPhone yang Raup Cuan Ratusan Juta dari Servis Apple
Viral Pocong Depok Minta Tolong Buka Kain Kafan? Polisi Bongkar Fakta Hoaks yang Bikin Geger