"Perempuan Indonesia menggunakan kebaya hampir di semua kesempatan, baik acara resmi, acara adat dan budaya maupun kegiatan sosial sehari-hari. Kebaya adalah pakaian yang pantas dipakai untuk segala kesempatan, maka saya melihat bahwa sesungguhnya busana nasional Kebaya adalah kekuatan kita, kaum perempuan Indonesia, untuk mempertinggi perannya dalam membangun kebudayaan bangsa dan memuliakan jati diri bangsa," kata Menteri PPPA dalam siaran pers, Senin (4/7/2022).
Oleh karenanya, Menteri PPPA mengajak perempuan Indonesia untuk dapat saling bahu membahu, bergotong royong, dan bersolidaritas untuk mendukung dan melestarikan Kebaya dalam rangka mendorong kemajuan kebudayaan Indonesia di kancah peradaban dunia.
Menteri PPPA kemudian menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada penggagas acara ini, yaitu pemerintah Kota Semarang, Kebaya Foundation dan lainnya, karena telah turut mendukung, memperkuat dan ikut meyakinkan perempuan Indonesia untuk bersama-sama menumbuhkan kebanggaan pada buatan Indonesia.
"Besar harapan saya, agar seluruh perempuan yang hadir dalam acara ini dapat bersama-sama terus mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal, melalui serangkaian proses yang akan membawa manfaat bagi pelestarian dan pembentukan ekosistem budaya salah satunya adalah kebaya," kata Menteri PPPA.
Pada kesempatan ini, turut hadir Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang menyampaikan bahwa pada abad ke 18 – 19, kebaya telah dipakai oleh semua wanita di Indonesia, kemudian Bung Karno pada era kemerdekaan mencanangkan kebaya sebagai baju nasional Indonesia. Oleh karena itu, Hendrar mengajak para perempuan Indonesia untuk dapat kembali mengagungkan dan melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia, yaitu busana Kebaya.
Artikel Terkait
Bareskrim Gerebek Markas Judol Internasional: 320 WNA Diringkus, Bos Masih Buron!
Wakil Ketua DPR Kritik Keras TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi: Ini Pembungkaman Kebebasan Berekspresi!
Harga BBM Pertamina 11 Mei 2026: Daftar Terbaru Pertalite, Pertamax, Solar - Ada yang Naik Gila-gilaan!
Pertumbuhan 5,61% Justru Memiskinkan? Ekonom Ungkap Fakta Pahit di Balik Data Ekonomi Indonesia