Menurut mantan Dirut Bank Mandiri ini, proyek milik Kementerian Perhubungan yang digarap PT Adhi Karya, proyek ini terkesan kuat tanpa perencanaan yang matang. “Ini project juga ‘salah kedaden’ (sesuatu yang salah terjadi) juga kalau bahasa orang Jawa. Kenapa, jadi dulu itu dengan berbagai macam teori bikin lah ini program kereta tanpa masinis,” kata Tiko.
Selanjutnya dia pun menjelaskan ada enam poin pentingmenyangkut proyek LRT Jabodebek. Pertama, prasarana LRT Jabodebek dibangun PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Sedangkan kereta digarap PT INKA (Persero), software development oleh Siemens, persinyalan oleh PT LEN Industri (Persero), dan lain-lain.
Anehnya, kata Tiko, tidak ada sistem integrator dalam proyek ini. Padahal, LRT Jabodebek bukanlah proyek ecek-ecek. Seharusnya sistemnya terintegasi dengan baik. Bukan seperti saat ini, terkesan kuat semua komponen proyeknya berjalan sendiri-sendiri. “Jadi semua komponen project ini berjalan liar, tanpa ada integrator di tengah,” katanya.
Ketika menangani proyek ini, ia pun membuat project management office (PMO) untuk memastikan integrasinya tercipta. Ia pun kemudian mengungkap ‘borok’ proyek ini, salah satunya, pada longspan dari Gatot Subroto menuju ke Kuningan. Menurutnya, konstruksi itu salah desain.
“Itu salah desain karena dulu Adhi sudah bangun jembatannya, dia nggak ngetes sudut kemiringan keretanya. Jadi sekarang kalau belok harus pelan sekali, karena harusnya lebih lebar tikungannya,” kata Tiko.
“Kalau tikungannya lebih lebar dia bisa belok sambil speed up, karena tikungannya sekarang udah terlanjur dibikin sempit, mau nggak mau keretanya harus jalan hanya 20 km/jam, pelan banget,” tambahnya.
Sumber: inilah
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Bocor: Koneksi Rahasia Hary Tanoe, Trump, dan Indonesian CIA Terungkap
Waspada! 10 Surat Tanah Ini Tak Berlaku Lagi Mulai 2026, Segera Urus SHM!
Bare Metal Server Terbaik 2024: Mana yang Paling Efisien untuk SaaS dan Startup?
Misteri Ayah Kandung Ressa Rossano Terkuak? Netizen Heboh Lihat Kemiripan Mengejutkan Ini!