"Buku ini membuktikan bahwa komitmen dan kolaborasi merupakan faktor kunci dalam kesuksesan memberantas stunting. Buku ini menunjukkan bahwa standardisasi program yang berbeda, solusi berbasis kearifan lokal, pemberian fleksibilitas kepada pemerintah daerah untuk berinovasi terbukti memiliki implikasi positif dalam upaya pemberantasan stunting," tuturnya.
Secara khusus, Kahkonen berharap buku ini dapat menginspirasi masyarakat dan pemerintah untuk mengadopsi berbagai inisiasi pemenuhan gizi berbasis kearifan lokal yang telah dilakukan di berbagai daerah selama ini dalam mengatasi masalah stunting sehingga dapat pula diterapkan di daerah lain.
"Semangat dan komitmen masyarakat, organisasi, dan pemerintah daerah terdokumentasi dalam buku ini. Hal ini mengingatkan kita semua bahwa tantangan dunia dalam meningkatkan sumber daya manusia sangat kompleks. Seperti Indonesia yang memiliki tugas untuk menurunkan angka stunting dan bertekad untuk melakukannya dengan sekuat tenaga," terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Indonesia memiliki progres yang baik dalam upaya penurunan angka stunting. Menurutnya, angka prevalensi stunting kini menurun signifikan dari 27,7% pada 2019, menjadi 24,4% pada 2021.
"Saat ini Indonesia telah menetapkan provinsi-provinsi prioritas untuk penurunan angka stunting, yakni 7 provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi dan 5 provinsi yang memiliki kasus stunting terbanyak dengan target penurunan angka prevalensi stunting nasional hingga 14% pada 2024," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia pun memastikan bahwa Kementerian Kesehatan memiliki komitmen tinggi dalam upaya pemberantasan stunting, khususnya melalui penguatan intervensi spesifik terhadap bayi sejak dalam kandungan hingga setelah lahir. Tidak hanya itu, pendidikan nutrisi dan kesehatan, screening anemia, peningkatan imunitas gadis dan ibu hamil, perawatan kehamilan (antinatal care), pemberian suplemen makanan untuk ibu hamil dengan malnutrisi energi kronis dan untuk anak di bawah lima tahun dengan malnutrisi akut, juga terus dilakukan.
"Selain itu, intervensi sensitif termasuk pendidikan kesehatan untuk gadis dewasa, wanita hamil, keluarga dengan anak di bawah lima tahun, keluarga peserta program perlindungan sosial, program keluarga pascamelahirkan, pemeriksaan kesehatan untuk usia subur, penyediaan air dan sanitasi yang baik, serta pemberian pendampingan kepada keluarga yang memiliki anak stunting," imbuhnya.
Sumber: rm.id
Artikel Terkait
Teuku Ryan Diduga Jadi Ayah Ressa? Fakta Mengejutkan Kasus Denada yang Bikin Heboh!
Roy Suryo Pakai Hermès ke Polda, Tapi Fokusnya Masih Satu: Ijazah Jokowi yang Belum Utuh Ditunjukkan
ASN Indramayu Ditahan! Modus Korupsi Bantuan PKBM Rp1,4 M Terungkap
Purbaya Akan Legalkan Rokok Ilegal? Ini Aturan Baru Cukai yang Bakal Guncang Industri