"Untuk itu, bangsa ini harus mulai maju menampakkan gerak nyata," tegas Ono.
Ono menambahkan, Pancasila tidak boleh lagi menjadi jargon saja dan tak boleh lagi hanya menjadi syarat formal tanpa nilai. Pancasila harus didorong benar-benar menjadi nafas setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di semua tingkatan dan menjadi nafas penyelenggaraan negara sehingga politik identitas tidak lagi merebak, mengganggu, dan merusak sistem demokrasi yang berjalan di Indonesia.
Selain itu, pemerataan ekonomi bagi semua masyarakat Indonesia dapat segera terwujud agar menjadi bangsa yang berdikari di bidang ekonomi.
Bahkan, kata Ono, setelah sebelumnya Pancasila ditawarkan kepada dunia, di tengah hiruk pikuk ancaman perang dunia ketiga, hendaknya pemerintah tetap menjalankan politik bebas aktifnya dan menyerukan perdamaian kepada semua pihak yang saat ini terlibat konflik.
"Pancasila dapat menjadi perangkat untuk menyikapi seluruh kondisi dan dperkembangan yang dihadapi Indonesia pada saat ini dan masa mendatang. Kondisi yang diinginkan oleh Pancasila, secara garis besar, adalah masyarakat, negara, dan dunia yang tanpa penindasan," ungkapnya.
Dengan demikian, lanjut Ono, sistem ekonomi yang dicita-citakan oleh Pancasila adalah sistem ekonomi yang tanpa adanya posisi berat sebelah antara pemodal dan pekerja. Sistem politik yang dicita-citakan oleh Pancasila pun demokrasi yang menjamin adanya kesetaraan yang hakiki antara semua pihak.
"Kesetaraan dalam ekonomi dan politik seperti ini pula yang dicita-citakan dapat terjadi dalam hubungan antar bangsa dan negara di dunia," tegasnya.
Kondisi yang dicita-citakan oleh Pancasila merupakan kondisi yang bertolak belakang secara mendasar dengan kondisi pada kurun waktu 1925-1945, yaitu kurun waktu di mana Bung karno menggali Pancasila saat pemerintahan kolonial Belanda masih berkuasa di Nusantara, bahkan bertolak belakang dengan kondisi saat ini. Maka, Pancasila menghendaki sebuah perubahan yang revolusioner.
"Apa yang harus dilakukan untuk melaksanakan Pancasila yang revolusioner? Bagaimana Pancasila dapat menjawab dan memberikan alternatif terhadap dinamika kondisi saat ini?," tanya Ono.
Ono mengungkapkan apa yang ingin dicapai oleh Pancasila sesungguhnya adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku ekonomi yang semula menindas dan mengeksploitasi menjadi perilaku ekonomi yang menghargai. Selain itu, perubahan perilaku politik yang semula memanipulasi menjadi perilaku politik yang memerdekakan.
"Lalu, bagaimana jawaban atas pertanyaan apa yang harus dilakukan untuk melaksanakan Pancasila yang revolusioner? Bagaimana Pancasila dapat menjawab dan memberikan alternatif terhadap dinamika kondisi saat ini? Tentunya dibutuhkan rangkaian konsep, kebijakan, program, dan kegiatan untuk menjabarkan dan mengaplikasikannya," jelasnya.
Hal ini tentu saja bukan hal yang mudah. Diperlukan kerja yang serius dan butuh waktu. "Bagi kita yang tertarik untuk mulai melakukan perubahan, maka satu hal yang harus selalu digarisbawahi adalah bahwa sesuatu yang akan dilakukan tersebut harus selalu didasarkan pada kesadaran, karena tanpa adanya kesadaran maka kita hanya akan selalu mengikuti arus dan putaran yang diciptakan oleh pihak lain yang tidak ingin melihat perubahan menuju keadaan yang lebih baik," pungkasnya.
Sumber: jpnn.com
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka: Apa yang Ditemukan KPU dan Mengapa Bonatua Masih Penasaran?
Isi Surat Rahasia Ammar Zoni ke Prabowo: Grasi atau Rehabilitasi?
Hyundai Targetkan Jual 2000+ Unit di IIMS 2026, Ini Model Andalan untuk Mudik Lebaran
Target Gila Hyundai di IIMS 2026: Serbu 2000+ Unit dengan Strategi Ramadan & Mobil Mudik Terlengkap!