Menurut dia, yang harus demokratis itu bukan hanya saat coblosan, tapi juga saat memunculkan kandidat calon pemimpin bangsa. “Itu tidak terjadi dalam pemilu kemarin. Kemunculan Gibran karena pendekatan kekuasaan, menutup peluang calon lain,” katanya.
Di tempat yang sama, Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Teguh Takalepta mengaku sebagai kalangan anak muda, merasa kecewa dengan dicalonkannya Gibran pada kontestasi Pilpres 2024.
Teguh menegaskan, meski Gibran berusia muda namun sama sekali tidak mewakili generasi muda atau milenial. “Kami tidak pernah merasa Gibran mewakili kami kaum muda,” tegasnya.
Menurut dia, kaum muda justru harus mawas diri dan bisa belajar dari kasus ini. “Menjadi pemimpin bangsa itu tidak mudah. Perlu tempaan yang luar biasa agar bisa menjadi pemimpin seperti harapan rakyat,” katanya.
Sumber: kbanaews
Artikel Terkait
Kabur dari Hukum! Kyai Pencabul Puluhan Santriwati di Pati Hilang Kontak, Polisi Siap Buru dan Tangkap
Dudung Bantah Keras Tuduhan Habib Rizieq Soal Jenderal Baliho & Isu Kabur ke Yaman
Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240 Triliun! Ini Penyebab Utama Kenaikan 130%
Ahmad Dhani Bongkar Bukti ABC Perselingkuhan Maia Estianty dengan Bos TV: Saya yang Ceraikan Dia!