Muliaman mengungkapkan, debit air di Sungai Aare pada saat kejadian terseretnya Eril ke arus sungai mencapai sekitar 200 meter kubik per detik.
"Debit air ini berubah setiap hari, tergantung pada intensitas pencarian gletser dari pengunungan di Bern yang dipengaruhi oleh hujan dan kenaikan suhu udara di pegunungan," kata Muliaman dalam konferensi pers, Senin (6/6).
Dia mengatakan, volume air masih tinggi dengan kekeruhan air yang juga dinilai masih tinggi pada beberapa hari masa pencarian Eril. Kekeruhan air Sungai Aare terjadi karena unsur partikel salju yang mencair.
"Jumat kemarin, kami mendapat laporan bahwa debit air mencapai sekitar 150 meter kubik per detik atau lebih kecil dibandingkan dengan debit air pada saat kejadian hilangnya Eril," tutur Muliaman.
Artikel Terkait
Turis Australia Diperkosa Satpam di Bali: Kronologi Mengerikan di Balik Kamar Mandi Klub Malam
Presiden Prabowo Beri Perintah Rahasia ke Bahlil: Ini Strategi Darurat Minyak Imbas Perang Timur Tengah
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!