“Alih-alih menyusun argumen tajam, lebih banyak teriak-teriak dari pada orasi ilmiahnya, dengan itu mereka berharap siapa tau bisa viral di TikTok atau minimal dapat liputan halaman depan dari koran luar negeri,” jelasnya.
Dedy mengaku tak melarang demo. Dulu, ia mengaku tukang demo.
“Jangan salah paham dulu, saya juga dulu tukang demo dan bukan berarti demo itu nggak boleh, ya. Demo itu bagian dari demokrasi, tapi kalau lebih banyak bakar-bakar daripada bicara substansi, atau orasi ilmiahnya lama-lama mirip anak-anak yang tantrum karena nggak dibeliin mainan,” terangnya.
Karenanya, ia menyimpulkan demokrasi di Indonesia sehat.
“Jadi, kesimpulannya? Demokrasi kita sehat. Tapi sayang, sebagian penggunanya masih perlu kursus logika dasar sebelum turun ke jalan,” tandasnya.
👇👇
Kalau ada yang bilang demokrasi Indonesia sedang krisis, tolong tunjukkan video anak-anak mahasiswa yang semangat membakar poster Presiden dan Wakil Presiden di siang bolong, sambil teriak-teriak dengan penuh keyakinan.
Ini bukan tanda demokrasi sekarat, justru ini tanda surplus… https://t.co/boFzMt6ZFB
Sumber: Fajar
Artikel Terkait
Dana Rp28 Triliun Soros Bocor ke Indonesia: Target Rahasia dan Kontroversi Intervensi Asing
SP-3 untuk Rismon: Perlindungan Hukum atau Imunitas untuk Kasus Ijazah Palsu?
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Siswa Dipotong, Intimidasi Hingga Pencatutan Nama Menteri!
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Dipotong, Intimidasi, hingga Klaim Palsu Cucu Menteri!