Tak ada lagi penghalang bagi Gibran untuk menduduki puncak kekuasaan, menjadikan Jokowi sebagai de facto penguasa di periode keempat, kelima, dan seterusnya.
Kekuasaan ini silih berganti—jika bukan Gibran, maka Kaesang, menantu, atau bahkan cucunya akan melanjutkan dinasti ini.
Ucapan Bahlil Lahadalia yang pernah menyatakan, “Raja Jawa kok mau dilawan?” tampaknya semakin terbukti.
Atau mungkin justru sinyal peringatan dari Prabowo pada 2018 lebih tepat: “Indonesia akan bubar pada 2030.”
Sebuah asumsi yang kini kian terlihat nyata.
Yang pasti, apatisme bangsa ini akan berdampak langsung pada keberlanjutan proyek-proyek oligarki, termasuk reklamasi laut yang terus meluas.
PSN, PIK 2, dan reklamasi perairan lainnya tak akan terhenti, bahkan akan semakin menggerogoti pantai, hutan negara dengan dalih HGU, hingga mengubah wajah kota-kota besar dengan megaproyek tak terkendali.
Dan pada akhirnya, buah dari kesabaran, ketakutan, dan apatisme yang telah mendarah daging hanya akan menyisakan kehancuran.
Sementara segelintir orang berjuang dengan segala keterbatasan, mayoritas bangsa ini memilih diam, bergeming, dan menjadi penonton.
Apakah ini yang disebut sebagai keberhasilan “Raja Jawa”? Ataukah kita tengah menyongsong kehancuran Republik sebelum 2030? ***
Artikel Terkait
Roy Suryo Cs Gugat KUHP & UU ITE ke MK: Dituduh Pencemaran Nama Baik Gara-Gara Teliti Ijazah Jokowi
Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka: Apa yang Ditemukan KPU dan Mengapa Bonatua Masih Penasaran?
Isi Surat Rahasia Ammar Zoni ke Prabowo: Grasi atau Rehabilitasi?
Hyundai Targetkan Jual 2000+ Unit di IIMS 2026, Ini Model Andalan untuk Mudik Lebaran