Lebih dari sekadar simbolik, reshuffle adalah tes kepemimpinan.
Ketidaktegasan Prabowo akan memperkuat persepsi bahwa pemerintahan ini masih di bawah kendali Jokowi.
Bahkan, narasi lama soal “Presiden boneka” yang dulu sempat disematkan kepada Jokowi (dengan Megawati sebagai tokoh sentral) bisa terulang kepada Prabowo, hanya dengan aktor berbeda.
Antara Niat Baik dan Celah Politik
Prabowo punya niat mulia: mempersatukan para mantan presiden demi kepentingan nasional.
Tapi Jokowi memaknainya secara politis. Ia merasa berkontribusi besar atas kemenangan Prabowo, merasa punya hak untuk tetap memberi arah pada menteri-menteri loyalnya.
Ini masalah serius. Presiden Prabowo diam saja saat kendali pemerintahannya direcoki dari belakang.
Diam bukanlah strategi jika akhirnya membentuk persepsi bahwa Prabowo hanyalah Presiden formalitas, sementara kendali sebenarnya tetap di tangan Jokowi.
Sebagai pimpinan Partai Gerindra, Prabowo semestinya menunjukkan ketegasan.
Ia pernah menyindir Jokowi sebagai “boneka Megawati”. Kini, publik menunggu apakah ia berani membuktikan bahwa ia bukan “boneka” dari presiden sebelumnya.
Momentum Menegaskan Arah Pemerintahan
Reshuffle adalah langkah awal untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kemudi negeri ini.
Presiden Prabowo perlu menegur, mengevaluasi, dan bila perlu memberhentikan menteri-menteri yang tidak loyal.
Ini bukan semata untuk menjaga wibawa, tapi menyelamatkan marwah pemerintahan dan partai yang mengusungnya.
Kalau reshuffle saja tak dilakukan, bagaimana mungkin publik percaya bahwa Prabowo benar-benar pemimpin sejati, bukan sekadar pelaksana kehendak sang pendahulu?
***
Artikel Terkait
Waspada! Gadis 13 Tahun di Bogor Dibawa Kabur Pria Kenalan TikTok, Ini Modus Grooming yang Harus Diketahui Orang Tua
Trump Acungkan Jari Tengah, Tapi Janji Buka Arsip Epstein Masih Fck You ke Publik?
Kontainer iPhone di Laut Jawa: Hoax AI yang Bikin Heboh atau Fakta Mengejutkan?
Wajib Pajak Syok Dihantam Denda Rp265 Juta, Tuding Petugas Pajak Main Standar Ganda!