Catatan Sejarah Membela & Melindungi Kezaliman: Mengundang Revolusi Rakyat!
Oleh: Ali Syarief
Akademisi
Dalam sejarah, kekuasaan yang dipertahankan secara membabi buta kerap berakhir dalam letupan besar.
Ketika ketidakadilan terus dipelihara, dan suara-suara perlawanan dibungkam, sejarah memiliki cara sendiri untuk berbicara kembali—melalui revolusi.
Louis XVI di Prancis, Shah Reza Pahlavi di Iran, hingga Hosni Mubarak di Mesir adalah nama-nama yang pernah disanjung dan dipertahankan oleh elite.
Namun justru dari benteng pertahanan itulah, kemarahan rakyat mendidih dan akhirnya meledak.
Kini, Indonesia tampaknya sedang berjalan di garis sejarah yang sama, dengan tokoh sentralnya: Joko Widodo. Sosok yang MH Ainum Najib menjulukinya sebagai “fir’aun”
Jokowi, yang dahulu dielu-elukan sebagai man of the people, berubah perlahan menjadi representasi dari kekuasaan yang tak lagi peduli pada rasa keadilan.
Ia bukan lagi sekadar presiden yang memimpin dua periode, tetapi kini menjelma sebagai arsitek dari nepotisme politik paling terang-terangan sejak Orde Baru.
Mengangkat anak dan menantu ke panggung kekuasaan dengan rekayasa hukum adalah pertunjukan vulgar yang mencederai demokrasi.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Kritik Keras TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi: Ini Pembungkaman Kebebasan Berekspresi!
Harga BBM Pertamina 11 Mei 2026: Daftar Terbaru Pertalite, Pertamax, Solar - Ada yang Naik Gila-gilaan!
Pertumbuhan 5,61% Justru Memiskinkan? Ekonom Ungkap Fakta Pahit di Balik Data Ekonomi Indonesia
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M