Lebih buruk lagi, mereka yang semestinya menjadi pengawas kekuasaan justru berubah menjadi pagar makan tanaman.
Partai politik, Mahkamah Konstitusi, hingga media arus utama ramai-ramai mempertahankan narasi bahwa Jokowi adalah “stabilitas”, padahal yang sedang dijaga bukan stabilitas rakyat, melainkan stabilitas kekuasaan yang menguntungkan segelintir elite.
Namun sejarah tidak pernah benar-benar bisa disensor. Seperti rakyat Iran yang membakar gambar Shah, atau massa Mesir yang menduduki Tahrir Square, kemarahan rakyat Indonesia juga tengah mengeram.
Isu kemiskinan, ketimpangan, korupsi yang makin vulgar, hingga pembangunan Ibu Kota baru yang menyedot anggaran di tengah derita rakyat, menjadi bara dalam sekam.
Ada kemiripan mencolok: pemimpin yang merasa dicintai, padahal sedang dibenci dalam diam.
Dukungan semu yang dibangun dari ketakutan, pencitraan, dan manipulasi hukum adalah fondasi rapuh yang suatu saat akan runtuh oleh gelombang amarah rakyat.
Dan ketika kekuasaan tak lagi bisa dibendung oleh logika, rakyat akan mengambil alih sejarah.
Bukan melalui pemilu yang dimanipulasi, tetapi lewat suara jalanan—tempat di mana keadilan kembali menjadi milik mereka yang pernah dicuri haknya.
Revolusi memang tak bisa diramal, tetapi ia selalu datang ketika rakyat dikhianati terlalu lama. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!
Misteri Bau Busuk di Masjid Pangandaran Terungkap: Pemuda Tewas Tersengat Listrik Saat Mabuk?
Panglima TNI Copot Kabais? Ternyata Ini Kaitannya dengan Kasus Penyiksaan Aktivis Kontras