POLHUKAM.ID - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla, menyampaikan pandangan tegas terkait maraknya kebencian terhadap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di ruang publik.
Ia menilai kebencian yang berlebihan tersebut sudah menjurus pada kondisi yang tidak sehat secara mental.
Menurut Ulil, Jokowi telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa.
Meski mengakui bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, termasuk Jokowi, namun jasa-jasa besarnya tidak bisa begitu saja diabaikan atau dihapus hanya karena kekurangannya.
“Ndak. Jokowi telah banyak berjasa besar dalam membangun negara ini. Kekurangannya tentu ada, dan banyak. Tetapi itu tidak menutupi jasanya yg besar bagi Indonesia,” tulis Ulil di akun X (Twitter), Ahad (8/6/2025).
Ia menambahkan, menghargai jasa presiden merupakan bagian dari etika kebangsaan.
Dalam pandangannya, seluruh presiden Indonesia—dari Soekarno, Suharto, hingga era reformasi saat ini—telah meletakkan batu bata penting dalam membangun negara.
“Kita harus bisa menghargai presiden-presiden yang telah meletakkan batu bata untuk menegakkan bangunan negeri ini. Masing-masing presiden, semuanya tanpa terkecuali, termasuk Suharto, telah berjasa banyak bagi negeri ini,” ujarnya.
Namun, Ulil juga mengkritisi fenomena kebencian yang menurutnya telah berubah menjadi sikap patologis.
Ia mengingatkan bahwa kritik terhadap pemimpin merupakan hal yang sehat dalam demokrasi, tetapi harus tetap dalam batas kewajaran dan tidak berubah menjadi dendam atau kebencian pribadi yang merusak.
“Kebencian pada Jokowi di sebagian kalangan ini sudah cenderung menjadi penyakit mental yang sama sekali tidak sehat dan toksik bagi suasana kebangsaan di negeri ini. Kritik pada pemimpin penting, tetapi jangan kebablasan menjadi kebencian yg patologis,” tegasnya.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Kritik Keras TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi: Ini Pembungkaman Kebebasan Berekspresi!
Harga BBM Pertamina 11 Mei 2026: Daftar Terbaru Pertalite, Pertamax, Solar - Ada yang Naik Gila-gilaan!
Pertumbuhan 5,61% Justru Memiskinkan? Ekonom Ungkap Fakta Pahit di Balik Data Ekonomi Indonesia
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M