Pihak universitas bahkan telah menunjukkan data dan dokumen pendukung keabsahan status akademiknya.
Prof. Paiman menilai bahwa tuduhan terhadap Jokowi bukan sekadar miskomunikasi atau kecurigaan wajar, melainkan sarat muatan politik.
Ia menyebut ada kelompok yang memang ingin menjatuhkan reputasi Presiden dengan menghembuskan isu-isu usang yang tidak berdasar.
“Ini bukan soal pendidikan, tapi soal upaya membangun distrust dan menanamkan kebencian. Mereka tahu tidak ada dasar, tapi terus diulang agar publik ikut ragu,” kata Prof Paiman.
Ia pun menyarankan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu di media sosial yang tak memiliki bukti kuat dan lebih mempercayai institusi formal seperti UGM, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Pemilihan Umum.
Menurut Prof. Paiman, apabila dibiarkan, kampanye fitnah seperti ini berbahaya bagi stabilitas politik dan ketahanan sosial bangsa.
“Saya tidak berbicara sebagai pendukung Jokowi, saya bicara sebagai akademisi dan warga negara. Kita harus jaga martabat bangsa. Jangan main-main dengan fitnah,” ucapnya.
Di akhir wawancaranya, Prof. Paiman mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada kerja-kerja produktif ketimbang menggiring opini yang tidak sehat.
Ia menyarankan agar energi bangsa lebih baik diarahkan untuk menyongsong tantangan masa depan pasca-Presiden Jokowi, termasuk dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, dan persatuan nasional.
“Kita ini mau maju, bukan mundur. Isu ijazah itu sudah selesai. Ayo kita move on dan dukung pemerintahan Prabowo-Gibran,” pungkasnya.
Sumber: SuaraNasional
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?