Prabowo menambahkan, dengan bertemu langsung kepala daerah seperti gubernur, pemerintah pusat dapat segera memahami kebutuhan konkret di lapangan. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan bukti dan kondisi riil, bukan sekadar laporan.
Pemimpin Harus Siap Dikritik dan Difitnah
Lebih jauh, Presiden mengingatkan para menteri, kepala badan, hingga gubernur tentang konsekuensi menjadi pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapi kritik, hujatan, hingga fitnah.
"Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah. Tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat," tegasnya.
Filosofi Kerja: Evidence-Based, Bukan Pencitraan
Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa pendekatan kerja pemerintahannya bertumpu pada pembuktian nyata di lapangan. Filosofi ini menekankan hasil konkret daripada sekadar pencitraan atau opini.
"Saya percaya dengan bukti, evidence-based itu cara bekerja saya. Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti," pungkas Presiden Prabowo Subianto.
Artikel Terkait
Gus Yahya Tantang Rais Aam: Selesaikan di Muktamar 2026! Ini Kata-Katanya
Roy Suryo Bersumpah Demi Allah: Ini Bukti Lembar Pengesahan Skripsi Jokowi Hilang Saat Diperiksa di UGM
Presiden Prabowo Turun Tangan! Audit 4 RS Papua Usai Ibu Hamil Meninggal Ditolak
Ahmad Ali PSI: Strategi Kontroversial Habis-Habisan untuk 2029 atau Bumerang?