Prabowo menambahkan, dengan bertemu langsung kepala daerah seperti gubernur, pemerintah pusat dapat segera memahami kebutuhan konkret di lapangan. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan bukti dan kondisi riil, bukan sekadar laporan.
Pemimpin Harus Siap Dikritik dan Difitnah
Lebih jauh, Presiden mengingatkan para menteri, kepala badan, hingga gubernur tentang konsekuensi menjadi pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapi kritik, hujatan, hingga fitnah.
"Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah. Tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat," tegasnya.
Filosofi Kerja: Evidence-Based, Bukan Pencitraan
Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa pendekatan kerja pemerintahannya bertumpu pada pembuktian nyata di lapangan. Filosofi ini menekankan hasil konkret daripada sekadar pencitraan atau opini.
"Saya percaya dengan bukti, evidence-based itu cara bekerja saya. Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti," pungkas Presiden Prabowo Subianto.
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai: Inilah Alasan Pengamat Bilang Isu Ini Sengaja Diperpanjang!
Juli-Agustus 2026 Kritis! Peringatan Jusuf Kalla Soal Potensi Chaos Nasional Akibat Defisit Rp1.000 Triliun
AM Hendropriyono Buka Suara: Ini Alasan Seskab Teddy Disebut Cerminan Pemimpin Masa Depan
Viral! Saiful Mujani Serukan Jatuhkan Prabowo, BRIN Buka Suara: Makar atau Bukan?