Kekhawatiran terbesar SBY adalah eskalasi konflik yang berujung pada penggunaan senjata nuklir. Ia mengutip berbagai studi yang memprediksi korban jiwa bisa melampaui lima miliar orang dalam skenario perang nuklir total, sebuah bencana yang akan memusnahkan peradaban dan harapan umat manusia.
Meski percaya bahwa perang masih dapat dicegah, SBY menegaskan bahwa waktu untuk bertindak semakin sempit. "Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ungkapnya.
Seruan untuk Tindakan Nyata dan Peran PBB
SBY menekankan bahwa doa dan harapan saja tidak cukup tanpa diikuti oleh aksi kolektif yang konkret. Mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein, ia mengingatkan bahwa kehancuran sering terjadi bukan karena ulah orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.
Sebagai langkah konkret mendesak, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly). Sidang yang mempertemukan para pemimpin dunia ini harus fokus pada pencarian solusi nyata untuk mencegah krisis global dan pecahnya perang dunia baru.
"Saya tahu, saat ini PBB boleh dikata tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing," tegas SBY. Ia menutup pernyataannya dengan pesan optimis: "Ingat, if there is a will, there is a way."
Artikel Terkait
Anies Baswedan Dapat Kartu Anggota 0001, Gerakan Rakyat Target Jadi Partai Politik 2026!
Eggi Sudjana Berbalik Arah? Sidang Ijazah Jokowi 2026 Ungkap Fakta Mengejutkan
Gibran Santai Ditertawakan Pandji di Mens Rea, Ternyata Ini Reaksi Mengejutkannya!
Meutya Hafid Didesak Mundur, Benarkah Strategi Pemberantasan Judi Online Gagal Total?