Didik memperingatkan bahwa serangan bersenjata, pembunuhan terarah (targeted killing), dan bombardemen massal berpotensi besar untuk memperburuk stabilitas keamanan global. Tindakan ini, ujarnya, justru berisiko menciptakan siklus terorisme baru dengan memunculkan musuh-musuh baru.
"Ini tindakan hipokrit. Mereka berdalih untuk perdamaian dunia, tapi justru bisa memperburuk siklus terorisme melalui pembunuhan targeted dan bombardemen massal," tegasnya.
Seruan Akuntabilitas dan Kecaman Internasional
Didik Mukrianto menekankan bahwa komunitas internasional tidak seharusnya memberikan dukungan secara membabi buta terhadap tindakan militer semacam ini. Sebaliknya, harus ada tuntutan akuntabilitas yang jelas atas setiap aksi yang berdampak pada korban jiwa warga sipil.
"Dunia harus menuntut akuntabilitas, bukan dukungan buta, karena perilaku ini hanya memperpanjang penderitaan umat manusia, khususnya di kawasan Timur Tengah," katanya.
Ia pun menyerukan kepada dunia internasional untuk bersama-sama mengutuk apa yang disebutnya sebagai arogansi imperialis. Didik juga mendorong dilakukannya langkah-langkah konkret di tingkat global, termasuk seruan boikot internasional, hingga dialog damai benar-benar dapat ditegakkan.
Artikel Terkait
Innalillahi! Try Sutrisno Wafat: Kisah Wapres ke-6 RI dari Medan Perang ke Istana
Rocky Gerung Peringatkan Prabowo: Risiko Jadi Mediator Iran-AS dan Fakta Tuduhan Agen Amerika
PMI Investasi Rp 5,3 Triliun di Indonesia: Sampoerna Jadi Pusat Ekspor Global untuk 30+ Negara?
Impor 105 Ribu Pikap India Ditolak, Mahasiswa Desak Dirut Agrinas Dicopot!