Nova juga mengidentifikasi sejumlah akun yang secara sistematis memotong dan menyebarkan konten provokatif tersebut. Fenomena ini baru ramai sebulan setelah ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Potensi konflik SARA dari manipulasi konten ini dinilai tinggi. Setelah amplifikasi terstruktur, muncul upaya eskalasi berupa pelaporan JK ke polisi di berbagai daerah. Nova menekankan bahaya dikotomi publik antara membela JK atau membela umat Kristen.
"Terlepas benar atau tidaknya, ini berarti ada upaya mobilisasi berbasis sentimen agama. Ada dikotomi yang terjadi di publik, antara membela JK atau membela umat Kristen. Ini yang sangat berbahaya," jelasnya.
Untuk mencegah konflik SARA, Nova menyarankan beberapa langkah. Pertama, literasi digital dan kampanye untuk menonton video secara utuh sebelum menyimpulkan. Kedua, penguatan verifikasi oleh fact checker. Ketiga, edukasi masyarakat tentang teknik manipulasi media sosial seperti dekontekstualisasi, selective editing, dan penggunaan AI untuk memanipulasi opini.
"Bisa dilakukan dengan kampanye setop dulu atau tonton dulu secara utuh. Kedua, fact checker harus diperkuat. Ketiga, masyarakat harus diberitahu bagaimana dekonstualisasi itu bekerja," jelasnya.
"Sehingga, pemuka agama harusnya memberikan klarifikasi dan membangun narasi bersama tentang sejarah dengan benar agar kita bisa melihat secara utuh di lapangan," pungkas Nova.
Artikel Terkait
Kasus Ijazah Palsu Jokowi Kembali Mencuat! Aktivis Desak Pengadilan Terbuka, Prabowo Diminta Turun Tangan
Menteri Keuangan Purbaya Bongkar Bobrok Birokrasi: Digeser Baru Nangis-nangis, 2 Dirjen Dicopot!
Mahfud MD Bongkar Alasan Hukum: Mengapa Tuduhan Makar ke Saiful Mujani Dinilai Mengada-ada?
Merger Gerindra-NasDem Batal? Ini Kata Dasco dan Saan Mustopa yang Bikin Heboh