Ia pun mencontohkan permasalahan HAM di Indonesia.
Menurut dia, media sosial ramai memperbincangkan Indonesia sebagai negara dengan pelanggaran HAM yang berat.
Mahfud menyebut, pengguna medsos sempat mengeklaim PBB sudah membentuk tim untuk menyelidiki pelanggaran HAM di Indonesia. Tapi, ini tidak sesuai fakta di lapangan.
"Saya 13-14 Juni datang sendiri ke markas Dewan HAM PBB, sama sekali Indonesia enggak dapat sorotan apa pun. Terus terang dalam penegakan HAM yang disoroti Turki, Inggris, Korea Utara, Brasil, dan ada 49 negara yang disebut. Indonesia tidak ada di situ," paparnya.
Mahfud menilai, yang terjadi di Indonesia saat ini bukan banyak kasus pelanggaran HAM berat.
Terjadi perubahan pola yang dulu merupakan pelanggaran HAM dari pemerintah ke rakyat, sekarang dari rakyat ke rakyat.
"Saya tidak ingin mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada pelanggaran HAM. Itu banyak. Tapi diingat polanya sudah berubah. Sekarang dari rakyat ke rakyat, itu namanya kejahatan. Dari pemerintah ke masyarakat itu namanya pelanggaran HAM berat," jelas Mahfud.
"Tentara nabrak orang pacaran lalu mayatnya dilempar ke sungai, ya itu pelanggaran HAM tapi bukan pelanggaran ham berat. itu pelanggaran HAM biasa seperti suami bunuh istri," tutup dia.
Artikel Terkait
Ade Armando Resmi Mundur dari PSI demi Jaga Partai dari Polemik Jusuf Kalla
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi