“Jika di-flashback kembali, yang tampak para pejuang atau aktivis reformasi 1998 terlalu euforia. Hanya senang dengan kejatuhan Soeharto, tetapi tidak memikirkan peranan kelembagaan lain, termasuk peranan partai-partai politik,” sesal Menko Perekonomian era Gus Dur itu.
RR menambahkan, para tokoh politik dan aktivis berharap partai politik beradaptasi, seiring berjalannya reformasi. Tapi kenyataannya, Parpol justru semakin menunjukkan sifat tidak demokratis, mirip rezim Orba.
“Segala hal diatur mereka, termasuk setoran-setoran yang banyak masuk ke kantong ketua umum Parpol,” pungkasnya.
Selain RR, diskusi virtual juga dihadiri dosen Universitas Paramadina, Septa Dinata, dan Sekjen SEMA Universitas Paramadina, Afiq Naufal.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?