“Jika di-flashback kembali, yang tampak para pejuang atau aktivis reformasi 1998 terlalu euforia. Hanya senang dengan kejatuhan Soeharto, tetapi tidak memikirkan peranan kelembagaan lain, termasuk peranan partai-partai politik,” sesal Menko Perekonomian era Gus Dur itu.
RR menambahkan, para tokoh politik dan aktivis berharap partai politik beradaptasi, seiring berjalannya reformasi. Tapi kenyataannya, Parpol justru semakin menunjukkan sifat tidak demokratis, mirip rezim Orba.
“Segala hal diatur mereka, termasuk setoran-setoran yang banyak masuk ke kantong ketua umum Parpol,” pungkasnya.
Selain RR, diskusi virtual juga dihadiri dosen Universitas Paramadina, Septa Dinata, dan Sekjen SEMA Universitas Paramadina, Afiq Naufal.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi
Ray Rangkuti Kecam Reshuffle Kelima Prabowo: Cuma Mutasi Figur Lama, Nggak Ada Perubahan Signifikan