“Jika di-flashback kembali, yang tampak para pejuang atau aktivis reformasi 1998 terlalu euforia. Hanya senang dengan kejatuhan Soeharto, tetapi tidak memikirkan peranan kelembagaan lain, termasuk peranan partai-partai politik,” sesal Menko Perekonomian era Gus Dur itu.
RR menambahkan, para tokoh politik dan aktivis berharap partai politik beradaptasi, seiring berjalannya reformasi. Tapi kenyataannya, Parpol justru semakin menunjukkan sifat tidak demokratis, mirip rezim Orba.
“Segala hal diatur mereka, termasuk setoran-setoran yang banyak masuk ke kantong ketua umum Parpol,” pungkasnya.
Selain RR, diskusi virtual juga dihadiri dosen Universitas Paramadina, Septa Dinata, dan Sekjen SEMA Universitas Paramadina, Afiq Naufal.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?