Saiful menilai, Gibran terlihat tidak ingin dikatakan sebagai petugas partai, dan memiliki independensi, serta tidak tunduk kepada siapapun, termasuk kepada PDIP dan Megawati.
"Baju yang dipakai Gibran menunjukkan sindiran keras dan bernas. Makna dari baju tersebut menunjukkan bahwa sebagai kader ia harus meluruskan apa yang menurutnya tidak tepat selama ini," kata Saiful.
Meskipun mengarah kepada pembangkangan, kata akademisi Universitas Sahid Jakarta ini, apa yang ditunjukkan Gibran masih dalam koridor dan batas yang benar. Mengingat, petugas partai tidak selamanya tunduk dan patuh kepada aturan partai jika dianggap bertentangan dengan nurani dan batin kader.
"Untuk itu, Gibran berupaya dengan baik menyindir dan bahkan coba menyadarkan para petinggi partai tempat bernaungnya bahwa semua memiliki kebebasan berekspresi, tidak ada yang dapat menghalang-halangi termasuk kepada dirinya," jelas Saiful.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?
Prabowo 2029: Siapa yang Akan Jadi Cawapres dan Mengubah Peta Politik?