Meski begitu, Hasto menekankan bahwa partainya selalu mendengarkan apa yang diinginkan oleh akar rumput alih-alih hanya berkutat pada elite. “Tradisi PDI Perjuangan tentu saja politik arus bawah, politik mendengarkan hati sanubari dari para anggota, karena kongres akan diikuti oleh seluruh utusan dari tingkat yang paling bawah,” ujar Hasto.
“Nanti pada tahun 2025, kita menangkan dulu. Setelah Pemilu dimenangkan oleh dukungan rakyat, (lalu) PDI Perjuangan harus mengawal,” sambungnya, merujuk pada pemerintahan Ganjar Pranowo apabila memenangkan Pilpres 2024.
Di sisi lain, spekulasi Jokowi akan keluar dari PDIP terus mencuat beberapa waktu belakangan, terutama setelah sang putra bungsu Kaesang Pangarep dinobatkan menjadi Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Banyak yang menilai Jokowi tidak lagi nyaman di PDIP lantaran partai tersebut masih dikuasai oleh trah Soekarno.
Salah satu yang mengamininya adalah pengamat politik M Qodari. “Sebetulnya kalau Pak Jokowi nanti ke PSI, menurut saya adalah sebuah tanda kesantunan atau menahan diri yang luar biasa dari Pak Jokowi. Karena bukan tidak ada sebetulnya pihak-pihak yang ‘ngipasin’ Pak Jokowi untuk take over kepemimpinan PDIP dalam Rakernas 2020,” ungkap Qodari, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews.
Sumber: suara
Artikel Terkait
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?
Prabowo 2029: Siapa yang Akan Jadi Cawapres dan Mengubah Peta Politik?