Pasalnya menurut Rocky Gerung, yang substansial adalah mempersoalkan perbuatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengacak-acak konstitusi dan melecehkan PDIP karena masih menjadi kader, sehingga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bertanggungjawab memulihkan demokrasi.
"Sekarang kita lihat betapa PDIP akhirnya tenggelam kembali hanya karena tuker tambah kepentingan untuk hal-hal yang sebetulnya tidak substansial, karena yang substansial adalah mempersoalkan kader dia sendiri yaitu Jokowi yang mengacak-acak konstitusi negeri dan melecehkan partai PDIP yang membesarkan dia," ucapnya.
"Kan itu intinya nya tuh kenapa kita ngotot, bukan sekedar ngotot menyadarkan pada ibu Mega bahwa Ibu Mega itu bertanggungjawab untuk pemulihan demokrasi, kenapa? karena yang merusak demokrasi adalah PDIP melalui kadernya sendiri tuh," imbuhnya, dikutip populis.id dari YouTube Rocky Gerung Official, Selasa (2/4).
Sementara itu pada Mei 2023, pengamat politik dari Universitas Andalas, Najmuddin Rasul, mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah merusak demokrasi dengan terang-terangan ikut cawe-cawe politik jelang Pilpres 2024.
Menurut Najmuddin, sebagai seorang presiden yang merupakan kepala pemerintahan, Jokowi haruslah netral dan memastikan penyelenggaraan pemilu berjalan damai.
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?