"Kami tidak tahu, Pak. Karena semua pengangkatan langsung oleh Menteri BUMN. Tinggal surat. Kami dilantik, kami dicopot, tidak pernah diajak negosiasi," ujarnya, merujuk pada Erick Thohir.
Meski dalam dakwaan disebutkan praktik ship chartering dan sewa Terminal BBM (TBBM) menimbulkan kerugian negara, Ahok mengklaim sistem digital Pertamina di eranya sangat transparan dan dapat ditelusuri secara detail.
"Saya bisa ikutin semua. Minyak ke mana, uang ke mana, sampai kapal delay berapa hari. Kalau ada yang 'kencing', saya bisa curiga," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Ahok justru mendorong penyidik untuk mengusut perkara ini hingga ke level tertinggi jika ingin mengungkap kebenaran secara menyeluruh. Ia menyarankan agar pemeriksaan tidak hanya berhenti pada level teknis operasional.
"Makanya saya bilang ke Pak Jaksa, kalau mau bongkar tuntas periksa sekalian Menteri BUMN. Bahkan Presiden bila perlu," pungkas Ahok, merujuk pada Joko Widodo yang menjabat presiden pada periode tersebut.
Artikel Terkait
2 Mantan Perwira Polri Jadi Tersangka TPPU Narkoba, Ada Bandar dan Sabu 488 Gram!
Mantan Gubernur Lampung Ditahan! Tersangka Korupsi Rp271 Miliar, Aset Rp35 Miliar Disita
Polisi Bekuk Dua Otak Pencucian Uang Jaringan Narkoba Ko Erwin, Rekening Karyawan Dikendalikan dari Malaysia
Khalid Basalamah Kembalikan Rp 8,4 M ke KPK: Pengakuan Mengejutkan di Balik Skandal Kuota Haji!