"Jika Anda memiliki krisis pangan di atas semua yang saya jelaskan, perang, hak asasi manusia, iklim, itu hanya akan mempercepat tren yang saya jelaskan dalam laporan ini," kata Grandi menggambarkan angka-angka itu mengejutkan.
Sebuah laporan oleh badan PBB menyatakan pada Kamis (16/6/2022), sekitar 89,3 juta orang mengungsi secara paksa di seluruh dunia sebagai akibat dari penganiayaan, konflik, pelecehan, dan kekerasan pada akhir tahun 2021.
Sejak itu, jutaan lainnya telah meninggalkan Ukraina atau mengungsi di dalam perbatasannya, dengan kenaikan harga terkait dengan terhambatnya ekspor biji-bijian akan memicu lebih banyak perpindahan di tempat lain.
"Jelas dampaknya jika tidak segera diselesaikan akan cukup dahsyat," kata Grandi.
Menurut Grandi, lebih banyak orang melarikan diri sebagai akibat dari kenaikan harga dan pemberontakan kekerasan di wilayah Sahel Afrika.
Secara keseluruhan, jumlah pengungsi meningkat setiap tahun selama dekade terakhir, sekarang lebih dari dua kali lipat dari 42,7 juta orang yang mengungsi pada 2012.
Artikel Terkait
Blokade Trump vs Iran: Selat Hormuz Membara, Bisakah Perang Dicegah?
Gempa M7.4 Baru Saja Terjadi, BMKG Jepang Peringatkan: Bersiap untuk yang Lebih Dahsyat!
Balikatan 2026: 17.000 Pasukan AS-Filipina-Jepang Uji Rudal di Depan Taiwan, China Marah!
Selat Hormuz Meledak! AS Tembak & Sita Kapal Iran, Ancaman Perang Makin Nyata?