Di tengah eskalasi ketegangan, Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menolak wilayahnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran. Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan komitmennya untuk tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara, darat, atau perairannya untuk serangan yang bermusuhan.
UEA juga berkomitmen tidak memberikan dukungan logistik apapun. Negara ini menekankan bahwa jalan dialog, de-eskalasi, dan penghormatan hukum internasional adalah fondasi terbaik untuk menyelesaikan krisis.
Eskalasi Ketegangan AS-Iran Memanas
Ketegangan antara Washington dan Tehran kembali memuncak menyusul gejolak dalam negeri Iran dan ancaman militer terbuka. Media AS melaporkan, selain USS Abraham Lincoln, tiga kapal perusak pendamping juga telah tiba di Samudra Hindia dalam perjalanan menuju Teluk Oman.
Pejabat Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan respons yang cepat dan komprehensif. Sejarah konflik pada Juni 2025, dimana Israel dengan dukungan AS melancarkan perang 12 hari, menjadi pengingat potensi pertukaran serangan drone dan rudal yang lebih luas.
Situasi saat ini terus dipantau ketat oleh dunia internasional, dengan kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka yang dapat menggoyang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Misteri 4 Hari Netanyahu: Benarkah PM Israel Tewas Pasca Serangan Iran?
AS Menyesal Abaikan Tawaran Rahasia Zelensky: Teknologi Anti-Drone Ukraina yang Bisa Hentikan Iran
Israel Dihujani 150+ Roket Hizbullah: Serangan Terkoordinasi dengan Iran Picu Eksodus Massal
Skandal Uskup San Diego: Dana Gereja Raib untuk Rumah Bordil, Diberhentikan Paus!