Sebelumnya, Trump telah berulang kali mengancam akan menyerang Iran, menyoroti isu program nuklir, rudal balistik, dan kebijakan domestik Teheran. Ia menegaskan bahwa jika jalur diplomasi gagal, alternatifnya akan "sangat traumatis".
Sebagai bentuk kesiapan, AS telah mengumpulkan kekuatan militer signifikan di dekat Iran, termasuk pengiriman kapal induk tambahan, ribuan personel, pesawat tempur, kapal perusak berpeluru kendali, serta aset tempur lainnya yang mampu melakukan serangan ofensif sekaligus pertahanan.
Pernyataan Kontroversial dan Semua Opsi Terbuka
Trump bahkan secara terbuka menyebut kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran sebagai hal yang terbaik. Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih pada masa itu, Anna Kelly, menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka, termasuk operasi militer berkepanjangan.
"Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Keputusan akhir akan diambil berdasarkan kepentingan terbaik bagi keamanan nasional AS," ujar Kelly.
Peringatan Keras dari Iranian Revolutionary Guard
Menanggapi eskalasi ini, Iranian Revolutionary Guard telah memberikan peringatan keras. Mereka menyatakan kesiapan untuk membalas serangan terhadap wilayahnya dengan menargetkan seluruh pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini mengingatkan pada eskalasi sebelumnya, di mana AS juga mengerahkan dua kapal induk ke kawasan. Teheran saat itu membalas dengan serangan terbatas terhadap pangkalan AS di Qatar.
Artikel Terkait
Dikejar Massa Haredi! Kisah Horor Dua Tentara Wanita Israel yang Nyaris Diamuk di Bnei Brak
Barack Obama Bongkar Fakta Alien: Mereka Nyata, Tapi...
Influencer Kuliner Tewas Usai Makan Kepiting Setan: Racun Apa yang Membunuhnya dalam 2 Hari?
Mike Tyson Jadi Duta Makanan Sehat AS: Kisah Trauma Pribadi di Balik Kampanye Super Bowl