Kapal tanker Iran MT Arman 114 telah bertahun-tahun ditahan oleh Indonesia setelah ditangkap dengan tuduhan melakukan perdagangan minyak di wilayah yang disengketakan. Status kapal ini hingga kini belum jelas, menjadi sumber ketegangan bilateral.
3. Keterlambatan Ucapan Belasungkawa dan Posisi Politik
Iran juga disebut kecewa karena keterlambatan Indonesia dalam menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Selain itu, pernyataan politik Indonesia yang dianggap tidak bersimpati terhadap Iran dalam konflik dengan AS-Israel turut memengaruhi hubungan.
Dian menduga, Iran kemungkinan meminta imbalan, minimal berupa kejelasan atau pembebasan kapal MT Arman 114, sebagai syarat untuk melepas dua kapal tanker Pertamina.
Analisis Lain: Dampak Keikutsertaan Indonesia dalam BoP dan Perjanjian dengan AS
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira dari CELIOS memberikan analisis berbeda. Menurutnya, kesulitan ini merupakan buntut dari keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan AS dan menandatangani perjanjian tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) dengan Amerika Serikat.
Malaysia, yang kapalnya sudah dapat melintas, diketahui menolak bergabung dengan BoP dan membatalkan kerja sama ART sambil mengkritik agresi AS ke Iran. Bhima mendorong pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi posisi politik luar negerinya, keluar dari BoP, dan membatalkan ART agar Iran bersedia bernegosiasi dengan lebih lunak.
Kesimpulannya, pembebasan dua kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz memerlukan pendekatan diplomatik yang cermat, dengan mempertimbangkan akar kekecewaan Iran dan posisi strategis Indonesia di kancah geopolitik global.
Artikel Terkait
Houthi Serang Israel: Dampak Mengerikan yang Bisa Guncang Timur Tengah dan Dunia
Iran Ultimatum AS: Kampus di Timur Tengah Bakal Diserang Jika Tak Patuhi Tenggat 30 Maret 2026
Trump vs NATO & Iran: Pulau Kharg Jadi Jebakan Maut yang Bisa Picu Perang Global?
7 Kapal Tanker Malaysia Terjebak di Selat Hormuz: Apa yang Sebenarnya Terjadi?