Dinamika politik internal Iran juga mempengaruhi negosiasi. Setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, posisinya digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan mengalami luka. Perubahan kepemimpinan ini dinilai memperkuat pengaruh komandan garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps. Akibatnya, sikap Iran dalam perundingan menjadi semakin keras.
Proposal Iran mengusulkan pembicaraan bertahap. Tahap pertama fokus pada penghentian perang dan jaminan AS tidak akan memulai konflik lagi. Tahap kedua membahas penghentian blokade laut AS dan pembukaan Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Isu sensitif seperti program nuklir dan hak pengayaan uranium baru akan dibahas setelah tahap awal selesai.
Kebuntuan negosiasi berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik hampir 3 persen menjadi sekitar 111 Dolar AS per barel. Bank Dunia memperingatkan bahwa harga energi bisa melonjak hingga 24 persen pada tahun 2026 jika gangguan akibat perang berlanjut.
Konflik ini juga memicu perpecahan di antara negara produsen minyak Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan keluar dari kelompok OPEC dan OPEC . Langkah ini menandakan perbedaan sikap terhadap situasi Iran yang semakin kompleks.
Artikel Terkait
Kanselir Jerman Bongkar Kekalahan Memalukan AS: Iran Menang Telak di Meja Negosiasi!
Motif Penembakan di Acara Trump Terungkap: Pelaku Sebut Target Pejabat AS dari Peringkat Tertinggi
Isi Catatan Pelaku Penembakan di Jamuan Trump: Kemarahan ke Kebijakan Pemerintah AS hingga Daftar Target Prioritas
Sosok di Balik Penembakan di Acara Trump: Guru Lulusan Kampus Elite, Pendiam, dan Mantan Relawan Demokrat