Beijing membantah tuduhan itu. Beijing mengklaim, pihaknya menawarkan pelatihan untuk mengurangi daya pikat ekstremisme agama.
Kunjungan Bachelet tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Komisaris Tinggi HAM PBB, dalam 17 tahun terakhir. sebelum ke Xinjiang, Bachelet mengunjungi Guangzhou.
Kunjungan Bachelet dilaksanakan dengan manajemen lingkaran tertutup (closed loop) sesuai protokol kesehatan Covid-19. karena China masih menerapkan kebijakan nol Covid-19.
Karena itu, Bachelet tidak didampingi wartawan. kelompok HAM dan negara-negara Barat khawatir bahwa China akan menggunakan kunjungan Bachelet sebagai dukungan atas pelaksanaan HAM di negara tersebut.
China sejak awal membantah keberadaan kamp penahanan di Xinjiang. Namun pada 2018, Beijing mengakui telah mendirikan pusat pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk mengendalikan terorisme, separatisme, dan radikalisme agama di wilayah tersebut.
Sumber: rm.id
Artikel Terkait
USS Gerald Ford Siaga Tempur: Akankah Sejarah Operation Praying Mantis 1988 Terulang?
Iran Ancam Serang Pangkalan AS: Apa Dampaknya bagi Stabilitas Global?
Viral! Detik-Detik Trump Tertidur di Acara Resmi, Benarkah Kesehatannya Memburuk?
Trump Ultimatum Iran: 10 Hari Menuju Perang atau Perdamaian?