Lha ini mau langsung loncat 19 juta, kayak main sulap. Sim salabim abrakadabra, tiba-tiba semua sarjana jadi manajer.
Lucunya lagi, yang dijanjikan bukan “menyediakan” 19 juta lapangan kerja, tapi “menciptakan”. Ciptaan, kata KBBI, berarti membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Lha wong yang sudah ada saja tidak bisa dijaga, mau bikin baru? Ini bukan game simulasi ekonomi, Mas Bro.
Ini realitas, tempat buruh di PHK, UMKM megap-megap, dan startup bangkrut satu demi satu seperti dominonya si investor.
Di sinilah letak absurditas kita. Satu pihak bicara angka bombastis demi suara, sementara kenyataan bicara data yang mencekik.
Seolah-olah pengangguran itu bisa disulap dengan platform digital, program magang bersertifikat, atau pembangunan Ibu Kota baru yang katanya menyedot tenaga kerja, padahal lebih banyak menyedot anggaran negara.
Kalau begini terus, jangan-jangan kita akan jadi negara pertama yang punya “lapangan kerja virtual”—banyak lowongan, tapi hanya hidup di atas slide PowerPoint.
Sementara rakyat tetap antre di kantor pos menunggu bansos, sambil bertanya dalam hati: “Lha, mana janjimu, Mas?”
Maka, sebelum kita larut dalam euforia “Janji Gibran”, mari kita waras sejenak. Bertanya bukan berarti benci.
Mengkritik bukan berarti iri. Hanya saja, sejarah terlalu kenyang dengan janji-janji yang tak pernah lunas.
Dan rakyat Indonesia, barangkali, sudah terlalu lama belajar mencintai pemimpin yang pandai bicara tapi lupa bekerja. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
17 Hari Tanpa Makan: Eksperimen Puasa Air Ekstrem & Perubahan Tubuh yang Mengejutkan!
DPR Bongkar Masalah Serius di Balik Program Makan Gratis: Dapur MBG Ternyata Belum Halal!
Purbaya Ngamuk ke BPJS: Penonaktifan Massal Peserta BPJS Dinilai Konyol dan Rugikan Negara, Ini Dampaknya!
Video Viral Winda Can: Fakta Mengejutkan & Bahaya Link Jebakan yang Harus Diwaspadai