Maka, “pemazulan Gibran” adalah tafsir rakyat untuk memulihkan makna konstitusi, dan “adili Jokowi” adalah langkah moral agar sejarah tidak melupakan pengkhianatan terhadap demokrasi.
Gibran di Persimpangan Munafik
Apakah sowan ke Try Sutrisno dan SBY bisa menghapus fakta bahwa Gibran hanyalah produk cacat hukum?
Apakah berpose dengan senyum ramah mampu menutup mata rakyat dari praktik culas Jokowi yang menodai reformasi?
Kunjungan itu hanya memperlihatkan satu hal: Gibran panik. Ia berlari mencari restu, berharap para jenderal tua dan presiden senior bersedia menjadi perisai dari amarah rakyat.
Tetapi, politik tidak mengenal belas kasih. Silaturahmi tanpa keberanian moral hanyalah formalitas hampa.
Penutup: Rakyat Tidak Lupa
Manuver Gibran hanyalah sandiwara penunda badai. Pemazulan bukan mustahil bila rakyat merasa konstitusi terus diinjak-injak.
Jokowi pun tak bisa bersembunyi di balik dinasti: sejarah akan mencatat dan kelak menuntut pengadilan politik, bahkan bila itu tak pernah diwujudkan di ruang sidang pengadilan.
Rakyat mungkin diam, tetapi tidak lupa. Dan manuver Gibran hari ini hanyalah bukti bahwa dinasti Jokowi sedang gentar menghadapi murka sejarah.
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Kabur dari Hukum! Kyai Pencabul Puluhan Santriwati di Pati Hilang Kontak, Polisi Siap Buru dan Tangkap
Dudung Bantah Keras Tuduhan Habib Rizieq Soal Jenderal Baliho & Isu Kabur ke Yaman
Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240 Triliun! Ini Penyebab Utama Kenaikan 130%
Ahmad Dhani Bongkar Bukti ABC Perselingkuhan Maia Estianty dengan Bos TV: Saya yang Ceraikan Dia!