Maka, “pemazulan Gibran” adalah tafsir rakyat untuk memulihkan makna konstitusi, dan “adili Jokowi” adalah langkah moral agar sejarah tidak melupakan pengkhianatan terhadap demokrasi.
Gibran di Persimpangan Munafik
Apakah sowan ke Try Sutrisno dan SBY bisa menghapus fakta bahwa Gibran hanyalah produk cacat hukum?
Apakah berpose dengan senyum ramah mampu menutup mata rakyat dari praktik culas Jokowi yang menodai reformasi?
Kunjungan itu hanya memperlihatkan satu hal: Gibran panik. Ia berlari mencari restu, berharap para jenderal tua dan presiden senior bersedia menjadi perisai dari amarah rakyat.
Tetapi, politik tidak mengenal belas kasih. Silaturahmi tanpa keberanian moral hanyalah formalitas hampa.
Penutup: Rakyat Tidak Lupa
Manuver Gibran hanyalah sandiwara penunda badai. Pemazulan bukan mustahil bila rakyat merasa konstitusi terus diinjak-injak.
Jokowi pun tak bisa bersembunyi di balik dinasti: sejarah akan mencatat dan kelak menuntut pengadilan politik, bahkan bila itu tak pernah diwujudkan di ruang sidang pengadilan.
Rakyat mungkin diam, tetapi tidak lupa. Dan manuver Gibran hari ini hanyalah bukti bahwa dinasti Jokowi sedang gentar menghadapi murka sejarah.
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Hary Tanoe & Dokumen Epstein: Benarkah Beli Rumah Trump dan Temui CIA Indonesia?
Ressa Rizky Rosano Buka Suara: Benarkah Sudah Nikah & Punya Anak di Usia 17 Tahun?
PPATK Bongkar Skandal Emas Ilegal Rp155 Triliun: Devisa Negara Bocor ke Singapura?
Habib Bahar bin Smith Ditahan! Ini Pasal Berat yang Menghantuinya